Bursa Transfer Pemain Klub Inggris Sepi Seperti Kuburan, Semua Tiarap Takut Dihukum?

Bursa transfer pemain sepakbola di Inggris sepi bak kuburan, apakah ini dampak dari aturan Financial Fair Play (FFP) yang membatasi pengeluaran klub Premier League?

Aktivitas di bursa transfer terlihat minim, terutama di Inggris, seiring klub-klub di sana merasa ketakutan pengurangan poin akan menimpa mereka seperti yang dialami oleh Everton dan Nottingham Forest.

Ketakutan Pada Aturan FFP?

Meskipun telah dibuka selama lebih dari dua pekan, sebagian besar klub tampaknya belum cukup aktif melakukan transaksi. Kesepian pun menyelubungi liga sepak bola terkaya di dunia itu, bahkan hal ini juga menimpa klub-klub yang biasanya aktif di periode ini.

Ada perubahan dinamika yang terjadi, hal ini terkait dengan kehati-hatian yang disebabkan oleh ketidakpastian terkait aturan Financial Fair Play (FFP) dan regulasi keuangan serta aturan keberlanjutan liga. Dan terutama aturan-aturan ini membatasi kerugian klub hingga 2 triliun rupiah dalam tiga tahun.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa pengurangan 10 poin untuk Everton karena pelanggaran peraturan PSR (Profit and Sustainability Regulations, atau kalau di bahasa Indonesia artinya Regulasi Keuntungan dan Keberlanjutan) menciptakan kekhawatiran dalam hal pengeluaran.

Klub yang berniat merekrut setidaknya satu pemain merasa perlu untuk bertindak hati-hati. Sanksi finansial terbaru untuk Everton dan Nottingham Forest membuat kepercayaan diri para pelaku pasar mengerdil.

Bukanlah Yang Pertama Kali Terjadi

Namun masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa jendela transfer bulan Januari akan sepi aktivitas selamanya.

Sepinya aktifitas di awal bulan Januari bukanlah sesuatu yang luar biasa. Pada tahun-tahun sebelumnya, aktivitas transfer memang biasanya dimulai lambat.

AYO JOIN CHANNEL WHATSAPP GILABOLA.COM UNTUK MENDAPATKAN UPDATE TERBARU SEPUTAR SEPAK BOLA! KLIK DI SINI GIBOLERS!

Transfer Liverpool, misalnya, pada tahun lalu mengontrak Cody Gakpo dengan biaya 37 juta pounds yang diumumkan tepat di Tahun Baru. Leeds dan Southampton juga aktif memperkuat tim mereka. Chelsea, yang biasanya agresif di jendela transfer belum belanja juga, dan Aston Villa menandatangani lex Moreno pada 11 Januari. Namun, sebagian besar cenderung terjadi menjelang penutupan bursa transfer pemain.

Panik dapat mempengaruhi perilaku klub. Klub yang beroperasi efisien biasanya telah merencanakan transfer musim panas dengan baik sehingga jika ada aktivitas di bulan Januari, itu lebih untuk penyempurnaan daripada perbaikan mendesak.

Klub yang berada di puncak klasemen cenderung berada dalam posisi kuat dan jarang melakukan perubahan besar. Namun, klub yang berjuang atau berada di zona bahaya mungkin terpaksa bergerak untuk memperbaiki situasi mereka.

Terhambat Kondisi Keuangan Klub

Namun, transaksi besar jarang terjadi pada bulan Januari, dan pihak pembeli seringkali tidak berada dalam posisi tawar yang baik.

Contohnya, rencana transfer West Ham United awalnya merencanakan bulan Januari yang tenang hingga krisis cedera tiba-tiba memaksa mereka mencari tambahan pemain depan.

Mauricio Pochettino juga menyatakan bahwa kebutuhan Chelsea untuk striker bisa mendesak jika cedera pinggul Christopher Nkunku serius. Dalam beberapa kasus, kebutuhan mendesak bisa memicu aktivitas transfer yang tiba-tiba.

Newcastle dan Tottenham sedang mencari gelandang, dan meski Spurs telah melanggar kebiasaan dengan melakukan transaksi lebih awal, pasar bisa hidup kembali hanya dengan satu transfer besar.

Namun tetap saja, suasana secara keseluruhan terasa suram. Berita gosip transfer hampir tidak beredar. Salah satu manajer dari klub besar divisi Championship melihat peluang untuk merekrut empat pemain, namun atasan mereka harus mempertimbangkan keuangan klub.

Arsenal membutuhkan penyerang, tetapi kondisi keuangan mereka membuat transfer Ivan Toney dari Brentford menjadi tidak realistis.

Chelsea mencari striker, tetapi target impian mereka, Victor Osimhen dari Napoli, tidak akan murah, dan kekhawatiran terkait FFP membuat mereka terbuka untuk tawaran untuk menjual Conor Gallagher.

Berbeda dengan Bournemouth, yang sedang memperkuat skuad mereka dalam perjuangan keluar dari zona degradasi dengan pengeluaran besar pada bulan Januari tahun lalu, tim promosi musim ini harus beroperasi dengan anggaran yang sangat terbatas. Burnley dan Sheffield United hanya diberi kelonggaran untuk beberapa pinjaman.

Di papan atas klasemen liga, manajer Aston Villa, Unai Emery, telah berbicara tentang kemungkinan klubnya yang tidak mampu bersaing dan membutuhkan penjualan untuk mendanai pembelian pemain baru.

Keterbatasan dalam mendatangkan pemain baru melalui transfer dapat mencegah Villa mengulangi prestasi Leicester yang memenangkan liga pada tahun 2016, dan bahkan kepemilikan Saudi di Newcastle tidak menjamin jalan bebas untuk menghabiskan uang secara berlebihan.

Faktor FFP sulit dihindari, Darren Eales, CEO Newcastle, juga memberikan isyarat bahwa pemain kunci klub bisa dijual pada musim panas ini.

Harapan muncul jika klub-klub Liga Pro Saudi bersedia membantu dengan membayar biaya transfer besar untuk mendatangkan bintang-bintang Liga Premier.

Namun, setelah pengeluaran besar pada musim panas sebelumnya, situasi saat ini menunjukkan bahwa perputaran uang mungkin akan lebih sedikit, dan harus mencari target yang lebih masuk akal.

Bursa transfer tampaknya tidak akan diramaikan oleh klub-klub Eropa. Klub di Spanyol, Jerman, dan Italia mengalami kesulitan membayar biaya transfer dan gaji pemain Liga Premier.

Bayern Munchen berhasil mendapatkan Eric Dier dari Spurs, tetapi Borussia Dortmund hanya mampu meminjam Ian Maatsen dari Chelsea dan Jadon Sancho dari Manchester United.

Piala Asia dan Piala Afrika Menambah Masalah

Untuk menambah kompleksitas, klub juga harus kehilangan pemain mereka selama gelaran Piala Asia dan Piala Afrika. Turnamen pertengahan musim ini meninggalkan kekosongan dalam skuad.

Klub kini lebih tertarik menurunkan pemain cadangan, tidaklah masuk akal untuk mengeluarkan uang untuk mencari pengganti pemain yang akan segera kembali dari tugas internasional.

Begitu juga, risiko yang melekat dalam mendatangkan Osimhen sekarang adalah bahwa ia mungkin tidak akan tersedia hingga paruh kedua Februari jika Nigeria mencapai final Afcon.

Semua ini menyebabkan stagnasi dalam perputaran uang di pasar transfer, menyumbat aktivitas pasar.

Pada waktu yang sama tahun lalu, Chelsea mengejar Enzo Fernández, Newcastle hampir mendapatkan Anthony Gordon, sementara Arsenal bersiap untuk membeli Jakub Kiwior, Leandro Trossard, dan Jorginho.

Sepinya bursa transfer kali ini juga berdampak pada bingungnya kami para pencari berita untuk memberitakan rumor transfer, jauh berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Maaf yah pembaca setia.