Lampard, Redknapp, West Ham Contoh Pertama Paman Muluskan Jalan Keponakan!

Gila Bola – Ribut-ribut soal nepotisme paman memuluskan jalan bagi keponakan sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1995 di West Ham United saat Harry Redknapp memberi kesempatan bagi Frank Lampard Junior untuk masuk ke skuad senior tim.

Sebenarnya nepotisme sudah terjadi sebelumnya, yakni ketika Frank Lampard Senior direkrut menjadi asisten manajer di klub London itu karena Redknapp adalah iparnya. Lampard senior dan Redknapp menikahi kakak-beradik Sandra dan Patricia Harris.

Itulah sebabnya pendukung the Hammers tidak terlalu suka melihat Lampard yunior terpilih masuk ke skuad senior West Ham United pada 1995, menuding terjadi nepotisme atau “mementingkan keluarga”, dengan Redknapp memuluskan jalan keponakannya menjadi calon bintang di Inggris.

Waktu yang Menentukan Apakah Frank Lampard Produk Nepotisme

Lampard yunior kelahiran 1978 dan terpilih masuk skuad senior West Ham pada tahun 1995. Berarti umurnya masih 17 tahun. Terlalu muda gak tuh? Tapi yang terpenting kan punya pengalaman. Ia membela tim yunior the Hammers sejak 1994 sampai 1995.

Dan sejak saat itu ia sudah membela West Ham selama lima tahun berikutnya, turun dalam 166 pertandingan, mencetak 29 gol dan memberi 20 assist. Tidak terlalu buruk kan? Fans the Hammers tidak bisa lagi menyebutnya sebagai nepotisme.

Namun perlakuan pendukung tim, yang tidak suka, membencinya, dan perlakuan buruk terhadap ayahnya Frank Lampard Senior, yang berdiri di sebelah kanan Redknapp pada foto di atas, membuat Lampard Yunior memutuskan pergi dari London Timur ke London Barat, ke Chelsea.

Transfer ke Stamford Bridge pada tahun 2001 itu seperti menambah bara api di atas kebencian para pendukung the Hammers terhadap Lampard, menyebutnya sebagai “rakus, materialistik” dan tidak sabaran ingin menggapai kesuksesan yang lebih tinggi dalam waktu cepat. Usia si pemain sudah 23 tahun pada waktu itu.

Frank Lampard Tambah Bersinar di Chelsea

Hanya waktu dan nasib baik yang kemudian memperlihatkan bahwa tidak ada kesalahan dibuat oleh Redknapp waktu ia membawa masuk keponakannya sebagai salah satu pemain utama West Ham, saat usianya masih 17 tahun.

Ia kemudian mencetak 211 gol dalam 648 penampilan bersama tim biru kota London itu, yang akan membuat sebagian pembencinya di London Stadium menyesalinya, kenapa ia tidak bermain dan mencetak gol bagi mereka.

Dari 211 gol itu, sebanyak tujuh disarangkannya ke gawang West Ham, membungkam mulut-mulut ember yang mengecam dan mengejeknya setiap kali ia tandang ke London Timur.

Frank Lampard sang keponakan kemudian menghabiskan satu musim di Manchester City, satu musim lain di New York City, sebelum kembali sebagai manajer di Derby County dan kemudian Chelsea dua tahun dan Everton satu musim, sebelum pulang ke Chelsea satu kali lagi sebagai pelatih interim.

Sementara Lampard sangat sukses sebagai pemain, tidak demikian halnya dengan karirnya sebagai pelatih. Angka persentase kemenangannya di Derby hanya 42 persen, di Chelsea 52,4 persen, di Everton anjlok jadi 27,3 persen dan di Chelsea untuk periode keduanya malah hanya 9 persen doang.

Lampard akan merasa selaku keturunan seorang asisten manajer, keberuntungan sebagai pelatih akan mengikutinya ke mana-mana. Tapi data menunjukkan, hal itu tidak terjadi.

advertisement

Ayo join channel whatsapp Gilabola.com untuk mendapatkan update terbaru seputar sepak bola! klik di sini gibolers!