Arsenal Kandas Lawan PSG, Striker Rp1,4 Triliun Jadi Kambing Hitam!

Gelar Liga Inggris yang akhirnya diraih Arsenal setelah penantian panjang gagal disempurnakan dengan trofi Liga Champions.

Enam hari setelah pesta juara domestik, tim asuhan Mikel Arteta harus menelan kekecewaan di Budapest. Arsenal kalah adu penalti dari PSG setelah kedua tim bermain imbang 1-1 hingga extra time pada final Liga Champions.

Arsenal sebenarnya memulai laga dengan sempurna.

Baru enam menit pertandingan berjalan, Kai Havertz membawa The Gunners unggul. Penyerang asal Jerman itu memanfaatkan ruang di belakang pertahanan lawan sebelum melepaskan penyelesaian keras yang tak mampu dihentikan kiper PSG.

Gol tersebut menjadi gol keduanya di partai final Liga Champions setelah sebelumnya mencetak gol kemenangan untuk Chelsea pada 2021.

Meski unggul cepat, Arsenal tak banyak menciptakan peluang berbahaya setelahnya. PSG lebih dominan dalam penguasaan bola, namun pertahanan Arsenal tampil disiplin dan membuat wakil Prancis itu kesulitan mendapatkan peluang bersih.

Momentum pertandingan berubah setelah laga melewati satu jam.

Cristhian Mosquera, yang sebelumnya cukup sukses meredam Khvicha Kvaratskhelia di sisi kanan pertahanan Arsenal, melakukan pelanggaran di area terlarang. Wasit langsung menunjuk titik putih.

Dapatkan berita terupdate dari Gilabola.com di Google News. Tambahkan sebagai sumber pilihan

Ousmane Dembele yang maju sebagai eksekutor sukses mengecoh David Raya dan mengubah skor menjadi 1-1.

Setelah gol tersebut, pertandingan berjalan lebih hati-hati. Baik Arsenal maupun PSG gagal menemukan gol kemenangan hingga waktu normal dan babak tambahan berakhir.

Adu penalti pun menjadi penentu.

PSG sempat melihat tendangan Nuno Mendes digagalkan kiper. Namun Arsenal gagal memanfaatkan situasi itu setelah Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes sama-sama gagal menjalankan tugasnya dari titik putih.

PSG akhirnya mempertahankan gelar Liga Champions mereka.

Gyokeres Kembali Jadi Sorotan

Salah satu keputusan terbesar Arteta sebelum pertandingan adalah memilih Kai Havertz sebagai starter di lini depan ketimbang Viktor Gyokeres.

Pilihan itu sempat terlihat sangat tepat.

Havertz tampil tajam, aktif membuka ruang, dan menjadi salah satu pemain terbaik Arsenal di lapangan.

Sebaliknya, Gyokeres yang masuk sebagai pemain pengganti setelah gol penyama kedudukan PSG gagal memberikan dampak signifikan.

Penyerang asal Swedia tersebut memang berhasil mengeksekusi penalti dalam adu tos-tosan. Namun sepanjang berada di lapangan, kontribusinya terbilang minim.

Satu-satunya momen yang cukup berbahaya datang ketika tembakannya yang terdefleksi melebar tipis pada menit-menit akhir extra time.

Selain itu, Gyokeres kesulitan mempertahankan bola saat Arsenal membutuhkan sosok yang mampu mengurangi tekanan PSG di area pertahanan mereka.

Pemain yang didatangkan dengan nilai transfer £64 juta atau sekitar Rp1,4 triliun itu hanya mencatat 20 sentuhan bola. Ia kehilangan penguasaan sebanyak 10 kali, menyelesaikan enam dari 12 operan, dan hanya memenangi empat dari 12 duel.

Angka-angka tersebut memperlihatkan kesulitan yang dialaminya saat masuk ke pertandingan yang tensinya sangat tinggi.

Padahal menjelang akhir musim, Gyokeres sempat menunjukkan perkembangan dalam aspek permainan yang selama ini dianggap sebagai kelemahannya, terutama dalam menahan bola dan membuka ruang bagi rekan-rekan setim.

Namun penampilan di Budapest justru kembali memunculkan pertanyaan mengenai efektivitasnya saat menghadapi lawan kelas elite.

Beberapa laporan bahkan menyebut Arsenal sedang mengamati peluang mendatangkan Julian Alvarez dari Atletico Madrid. Jika benar demikian, performa Gyokeres di final ini bisa semakin memperkuat alasan klub untuk mencari opsi tambahan di lini depan.

Rating Pemain Arsenal vs PSG

PemainRating
David Raya7/10
Cristhian Mosquera5/10
William Saliba8/10
Gabriel Magalhaes6/10
Piero Hincapie8/10
Declan Rice7/10
Myles Lewis-Skelly7/10
Bukayo Saka5/10
Martin Odegaard5/10
Leandro Trossard5/10
Kai Havertz7/10

Opini Gilabola.com

Final seperti ini sering kali memperlihatkan kualitas pemain ketika tim sedang berada di bawah tekanan.

Kai Havertz mampu menjawab tantangan itu dengan performa yang matang, sedangkan Viktor Gyokeres belum menunjukkan pengaruh yang sama ketika masuk dari bangku cadangan.

Jika Arsenal memang ingin terus bersaing di level tertinggi Eropa, evaluasi terhadap lini depan tampaknya masih akan menjadi pekerjaan rumah penting bagi Mikel Arteta.