
Arsenal datang ke final Liga Champions menghadapi PSG dengan satu masalah yang sulit disembunyikan: tenaga pemain mereka mulai terkuras habis!
Di saat The Gunners harus terus memaksakan tim inti bermain hampir sepanjang musim demi mengejar gelar Premier League, Paris Saint-Germain justru punya kemewahan yang jarang dimiliki klub elite Eropa musim ini. Mereka bisa mengistirahatkan pemain-pemain terbaiknya hampir sepanjang kompetisi domestik.
Sekilas jadwal kedua tim memang tampak sama berat. Final di Budapest akhir pekan ini akan menjadi laga ke-63 Arsenal sepanjang musim 2025/26. PSG sedikit lebih sedikit dengan 56 pertandingan, walau klub Prancis itu juga sempat memainkan tujuh laga Piala Dunia Antarklub musim panas lalu.
Kalau dihitung total sejak Juni tahun lalu, keduanya sama-sama sudah menjalani 62 pertandingan.
Tapi ceritanya berbeda.
PSG memang sempat dipaksa bermain tanpa jeda panjang setelah menjuarai Liga Champions 2025. Mereka langsung terbang ke Amerika Serikat untuk tampil di Piala Dunia Antarklub dalam cuaca panas, hanya dua pekan setelah mengangkat trofi Eropa.
Belum selesai di situ. Musim baru mereka dimulai tepat sebulan setelah turnamen tersebut berakhir lewat ajang Piala Super Eropa, lalu Ligue 1 dimulai beberapa hari kemudian.
Namun Luis Enrique menemukan cara untuk menjaga skuadnya tetap segar.
Luis Enrique Berani Rotasi Besar
Saat PSG membuka musim Ligue 1 melawan Nantes, hanya dua pemain starter final Liga Champions sebelumnya yang langsung dimainkan sejak menit awal.
Sisanya dirotasi.
Nama-nama seperti Nuno Mendes, Achraf Hakimi, Ousmane Dembélé, Désiré Doué, dan Khvicha Kvaratskhelia bahkan baru masuk dari bangku cadangan untuk membantu PSG menang 1-0.
Dan itu bukan kejadian sekali saja.
Luis Enrique berkali-kali memberi libur penuh kepada pemain utamanya di Ligue 1. Dampaknya terasa sekarang, tepat menjelang final.
Dembélé, yang meraih Ballon d’Or musim ini, cuma menjadi starter dalam 11 pertandingan Ligue 1 dari total 34 laga PSG. Marquinhos juga hanya 11 kali starter. Mendes, João Neves, dan Fabián Ruiz masing-masing 13 kali.
Hakimi 16 kali. Doué juga 16.
Bahkan sebagian dari mereka bermain lebih banyak menit di Liga Champions dibanding Ligue 1, padahal jumlah pertandingan Eropa jauh lebih sedikit.
Cedera memang sempat datang, tapi mayoritas absennya para pemain inti PSG murni karena rotasi.
Luis Enrique jelas menjadikan Liga Champions sebagai prioritas utama.
Arsenal Justru Dipaksa Gas Terus
Situasi Arsenal malah bertolak belakang 180 derajat.
Persaingan ketat Premier League membuat Mikel Arteta nyaris tak punya ruang untuk mengistirahatkan pemain pentingnya. Arsenal harus terus menekan sampai pekan-pekan terakhir demi memastikan gelar liga tak lepas lagi.
Trauma gagal juara dalam tiga musim sebelumnya juga terasa memengaruhi pendekatan mereka musim ini.
Arteta nyaris tak menyentuh komposisi inti.
David Raya bermain penuh di Premier League sampai gelar dipastikan. Declan Rice cuma absen dua pertandingan liga. Martín Zubimendi bahkan tidak pernah absen sama sekali di Premier League musim ini.
Secara total, sejumlah pemain inti Arsenal sudah menembus lebih dari 4.000 menit bermain musim ini di semua kompetisi.
Di kubu PSG, hanya Warren Zaïre-Emery yang mencapai angka tersebut.
Dari total 12 pemain kedua tim yang sudah bermain minimal 3.000 menit musim ini, sembilan di antaranya berasal dari Arsenal.
Itu gambaran yang cukup jelas.
Faktor Energi Bisa Jadi Penentu
Secara kualitas, final ini tetap terlihat seimbang.
Namun dalam pertandingan sebesar final Liga Champions, detail kecil sering jadi pembeda. Intensitas, pressing, kecepatan recovery, sampai kemampuan menjaga tempo selama 90 menit bisa sangat dipengaruhi kondisi fisik pemain.
Dan di titik itu, PSG tampaknya punya keuntungan yang sulit diabaikan.
Skuad Luis Enrique datang dengan tenaga yang lebih terjaga. Arsenal sebaliknya terlihat seperti tim yang sudah dipaksa bertarung habis-habisan sepanjang musim.
Kalau laga berjalan ketat hingga menit-menit akhir, faktor kebugaran bisa berubah menjadi senjata terbesar PSG di Budapest.
Opini Gilabola.com
Keputusan Luis Enrique melakukan rotasi besar sepanjang musim mulai terlihat nilainya sekarang. PSG mungkin tidak selalu tampil meyakinkan di Ligue 1, tapi mereka berhasil menjaga kondisi pemain inti tetap ideal untuk malam terpenting musim ini.
Arsenal punya mentalitas dan intensitas luar biasa, tetapi jadwal brutal Premier League tampaknya mulai meninggalkan efek. Final seperti ini kadang tidak cuma dimenangkan tim terbaik, tapi juga tim yang masih punya tenaga terakhir saat lawan mulai melambat.
