PSG Juara Liga Champions, Mengapa Arsenal Kehilangan Kendali Setelah Unggul Cepat?

Arsenal harus kembali menunda mimpi meraih trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub setelah kalah dari PSG lewat adu penalti pada final yang berlangsung di Puskás Aréna, Budapest. Pertandingan berakhir 1-1 hingga extra time sebelum PSG akhirnya keluar sebagai juara Eropa.

Kai Havertz sempat membawa Arsenal unggul cepat pada menit keenam dan membuat tim asuhan Mikel Arteta tampil percaya diri di awal pertandingan. Namun momentum perlahan berubah ketika PSG mulai menguasai penguasaan bola dan memaksa Arsenal bermain lebih dalam.

Arsenal sebenarnya memulai pertandingan dengan sempurna.

Gol Kai Havertz pada menit keenam membuat tim asuhan Mikel Arteta berada dalam posisi ideal untuk meraih trofi Liga Champions pertama mereka.

Namun setelah unggul, Arsenal perlahan kehilangan kontrol permainan.

PSG mulai mendominasi penguasaan bola dan memaksa Arsenal lebih banyak bertahan di area sendiri. Bahkan pada babak pertama, PSG sempat mencatat dominasi possession yang sangat tinggi meski belum mampu menciptakan banyak peluang bersih.

Momentum pertandingan berubah ketika penalti Ousmane Dembélé membuat skor kembali imbang.

Namun yang menarik, final ini tidak benar-benar ditentukan oleh para pencetak gol.

Dapatkan berita terupdate dari Gilabola.com di Google News. Tambahkan sebagai sumber pilihan

Pertandingan justru berubah menjadi duel kontrol tempo, duel second ball, dan pertarungan fisik di lini tengah hingga memasuki extra time.

PSG terlihat lebih mampu menjaga ritme permainan ketika laga memasuki fase-fase akhir, sementara Arsenal mulai kehilangan energi setelah harus bertahan dalam waktu lama.

Karena itu, ketika pertandingan berlanjut hingga adu penalti, arah pertandingan sebenarnya sudah mulai bergeser ke pihak PSG.

Dan ketika penalti menjadi penentu, keunggulan mental serta kontrol permainan yang mereka bangun sepanjang pertandingan akhirnya membawa PSG mempertahankan gelar Liga Champions.