
Pertemuan Portugal dan Spanyol pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 diprediksi tidak hanya menyajikan duel para penyerang. Perebutan kendali permainan di lini tengah justru diyakini menjadi faktor yang paling menentukan siapa yang berhak melaju ke perempat final.
Laga derby Semenanjung Iberia yang digelar di Dallas Stadium itu mempertemukan dua tim dengan karakter serupa. Keduanya sama-sama mengandalkan penguasaan bola sebagai fondasi permainan.
Namun sepak bola modern sering ditentukan oleh tim yang mampu menguasai tempo permainan.
Karena itu, duel Rodri dan Vitinha layak disebut sebagai pertarungan paling krusial di laga Portugal kontra Spanyol.
Tim yang berhasil mendominasi lini tengah memiliki peluang lebih besar untuk mengendalikan jalannya pertandingan sekaligus mengamankan tiket ke babak delapan besar.
Adu Dominasi Rodri dan Vitinha
Spanyol menjadi tim dengan rata-rata penguasaan bola tertinggi sepanjang Piala Dunia 2026, mencapai 68,2 persen. Portugal tidak terpaut jauh dengan catatan 61,8 persen, atau menjadi yang terbaik kelima di turnamen.
Perbedaan itu juga terlihat dari jumlah operan yang dilepaskan setiap pertandingan. La Roja mencatat rata-rata 631,3 umpan sukses per laga, sedangkan Portugal membukukan 555,8 operan.
Persaingan semakin menarik ketika melihat dua sosok yang mengendalikan ritme permainan masing-masing tim.
Rodri menjadi pemain dengan rata-rata operan terbanyak di Piala Dunia 2026, yakni 104,1 umpan sukses setiap pertandingan. Tepat di belakangnya ada Vitinha yang mencatat rata-rata 102,7 operan.
Jarak keduanya bahkan cukup jauh dibanding pemain lain. Aïssa Mandi dari Aljazair berada di posisi berikutnya dengan rata-rata 90,8 operan sukses per pertandingan.
Peran Rodri bersama Spanyol juga tidak lepas dari konsistensinya di level klub. Sejak bergabung dengan Manchester City pada 2019, ia menjadi gelandang dengan sentuhan bola terbanyak, mencapai 18.778 kali, serta membukukan 15.164 operan sukses di Liga Inggris.
Vitinha juga tampil dominan bersama Paris Saint-Germain sejak pindah dari Porto pada 2022. Dalam periode tersebut, ia mencatat 1.626 operan sukses lebih banyak dan 1.308 sentuhan bola lebih banyak dibanding pemain lain di Ligue 1.
Pedri dan Joao Neves Siap Menambah Sengit Persaingan
Di kubu Spanyol, Rodri mendapat dukungan Pedri yang menjadi motor serangan dari lini kedua.
Gelandang Barcelona itu sudah mengirimkan 122 operan di sepertiga akhir lapangan lawan selama Piala Dunia 2026, terbanyak dibanding pemain lain. Meski belum mencatat assist, Pedri telah menciptakan tujuh peluang dengan expected assists sebesar 1,54, juga menjadi yang terbaik di timnya.
Musim 2025-2026 bersama Barcelona pun berjalan impresif. Pedri menutup kompetisi dengan sembilan assist, dua gol, dan menjadi pemain dengan operan terbanyak di area permainan lawan, sebanyak 1.412 umpan.
Portugal tidak kalah menarik. Selain Vitinha, Roberto Martínez juga memiliki Joao Neves yang baru berusia 21 tahun.
Neves tampil penting saat membantu Paris Saint-Germain menjuarai Liga Champions musim lalu. Ia mencatat 43 sentuhan di kotak penalti lawan, lima kontribusi gol berupa dua gol dan tiga assist, serta memenangi 91 duel. Hanya Nuno Mendes yang memiliki jumlah duel lebih banyak dengan 97 kemenangan.
Di Piala Dunia 2026, Neves memang baru mencetak satu gol lewat sundulan saat menjalani debut melawan Republik Demokratik Kongo. Setelah itu pengaruhnya belum terlalu menonjol. Namun kualitas yang dimilikinya membuat gelandang muda tersebut tetap berpotensi menjadi pembeda ketika menghadapi Spanyol.
Selain duel Vitinha melawan Rodri serta Pedri menghadapi Joao Neves, pertandingan ini juga diperkirakan menghadirkan persaingan menarik dari Bruno Fernandes dan Dani Olmo yang kemungkinan besar sama-sama tampil sejak menit pertama.
Laga ini memang akan dihiasi duel pemain-pemain bintang seperti Lamine Yamal melawan Nuno Mendes maupun Mikel Oyarzabal menghadapi Cristiano Ronaldo. Namun perebutan kendali bola di lapangan tengah berpeluang menjadi cerita terbesar yang menentukan langkah salah satu tim menuju babak perempat final.
