Kisah Alireza Beiranvand, Pernah Tidur di Jalan dan Kini Bikin Belgia Frustrasi di Piala Dunia 2026

Saat Belgia terus menekan dan memburu gol kemenangan, satu sosok berdiri kokoh di bawah mistar gawang Timnas Iran.

Namanya Alireza Beiranvand.

Kiper berpostur 193 sentimeter itu menjadi alasan utama Iran mampu menahan imbang Belgia tanpa gol pada laga fase grup Piala Dunia 2026. Tujuh penyelamatan ia lakukan sepanjang pertandingan dan penghargaan Player of the Match pun jatuh ke tangannya.

Hasil itu terasa istimewa mengingat Belgia datang sebagai tim peringkat kesembilan dunia versi FIFA.

Dari Perbukitan Lorestan ke Panggung Piala Dunia

Perjalanan Beiranvand menuju level tertinggi sepak bola dunia jauh dari kata mudah.

Ia lahir dari keluarga nomaden suku Lak Kurdi di wilayah Lorestan, Iran. Masa kecilnya dipenuhi keterbatasan ekonomi, sementara sang ayah menentang impiannya menjadi pesepak bola.

Bagi keluarganya saat itu, sepak bola dianggap kemewahan yang sulit dijangkau. Bahkan membeli sarung tangan kiper saja dianggap pemborosan.

Namun Beiranvand tidak menyerah.

Dapatkan berita terupdate dari Gilabola.com di Google News. Tambahkan sebagai sumber pilihan

Saat masih remaja, ia meminjam uang saku, meninggalkan rumah, lalu naik bus menuju Teheran dengan harapan bisa mengejar mimpinya sebagai pemain sepak bola profesional.

Setibanya di ibu kota Iran, ia tidak memiliki tempat tinggal maupun kenalan.

Berbulan-bulan ia tidur di jalanan dekat klub-klub sepak bola lokal. Setidaknya, menurut pemikirannya saat itu, jika harus bermalam dalam udara dingin, lebih baik berada dekat lapangan.

Untuk bertahan hidup, Beiranvand melakukan berbagai pekerjaan. Ia menyapu jalan, mencuci ban di tempat pencucian mobil, bekerja di pabrik pakaian hingga membuat adonan di toko pizza pada malam hari demi membeli makanan.

Pemegang Dua Rekor Guinness World Records

Kerja keras itu perlahan membawanya ke dunia sepak bola profesional.

Para pelatih kemudian menemukan kemampuan fisik unik yang dimiliki Beiranvand. Saat kecil, ia terbiasa memainkan permainan tradisional bernama Dalparan, yaitu melempar batu sejauh mungkin untuk membantu menjaga kawanan domba.

Aktivitas tersebut ternyata membentuk kekuatan tubuh bagian atas yang luar biasa.

Hasilnya terlihat ketika Beiranvand mencatatkan dua rekor Guinness World Records di dunia sepak bola.

Rekor pertama adalah lemparan terjauh dalam pertandingan sepak bola, yakni sejauh 61,002 meter saat menghadapi Korea Selatan pada Oktober 2016.

Ia juga memegang rekor tendangan drop kick terjauh dalam sejarah sepak bola dengan jarak mencapai 78,014 meter.

Bertahan di Tengah Situasi yang Sulit

Kiper Iran Alireza Beiranvand saat membuat timnas Belgia Frustrasi
Kiper Iran Alireza Beiranvand saat membuat timnas Belgia frustrasi.

Penampilan gemilang Beiranvand melawan Belgia semakin terasa spesial karena Iran menghadapi berbagai kendala di luar lapangan selama Piala Dunia 2026.

Karena persoalan visa dan ketegangan geopolitik, Iran tidak bisa membangun base camp utama di Amerika Serikat seperti negara peserta lainnya.

Sebagai gantinya, Team Melli harus bermarkas di Meksiko dan menjalani perjalanan lintas negara secara rutin menjelang pertandingan.

Dalam beberapa kesempatan, skuad Iran bahkan baru mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat sekitar 24 jam sebelum pertandingan dimulai.

Kondisi tersebut membuat persiapan mereka jauh dari ideal.

Belum lagi tekanan emosional yang datang dari situasi dalam negeri serta perbedaan pandangan di kalangan pendukung mereka.

Meski demikian, ketika peluit pertandingan melawan Belgia dibunyikan di Los Angeles, para pemain Iran tetap menunjukkan daya juang tinggi.

Beiranvand menjadi simbol perlawanan itu.

Dengan dua poin dari dua pertandingan, peluang Iran untuk lolos ke fase gugur masih terbuka.

Dan selama Beiranvand masih berdiri di bawah mistar, lawan mana pun tampaknya tidak akan mudah menembus pertahanan Team Melli.

Kisah Alireza Beiranvand menjadi pengingat bahwa sepak bola tidak selalu dimenangkan oleh fasilitas terbaik atau persiapan paling mewah.

Dalam pertandingan melawan Belgia, Iran menunjukkan bahwa karakter dan daya tahan mental masih punya tempat besar di level tertinggi sepak bola dunia.

Beiranvand bukan hanya tampil sebagai kiper yang hebat, tetapi juga simbol bagaimana mimpi bisa bertahan meski berulang kali dihantam keadaan.