
Grup C menghadirkan salah satu nama terbesar dalam sejarah sepak bola dunia. Brasil datang ke Piala Dunia 2026 dengan target mengakhiri penantian panjang sejak terakhir kali mengangkat trofi pada 2002.
Namun jalan Selecao tidak sepenuhnya mulus. Maroko, Skotlandia, dan Haiti siap mencoba mengganggu ambisi tim Amerika Selatan tersebut dalam perebutan tiket ke babak gugur.
Brasil Masih Menjadi Tim yang Harus Dikalahkan
Sudah 24 tahun berlalu sejak Brasil terakhir kali menjadi juara dunia. Meski begitu, mereka tetap masuk daftar unggulan utama setiap kali turnamen digelar.
Piala Dunia kali ini berlangsung di Amerika Utara, kawasan yang menyimpan kenangan manis bagi Brasil setelah mengangkat trofi dunia pada 1994.
Perjalanan menuju putaran final sebenarnya tidak terlalu meyakinkan. Brasil hanya finis di posisi kelima klasemen kualifikasi CONMEBOL dengan delapan kemenangan dari 18 pertandingan. Mereka juga sempat kalah dari Jepang dan Prancis sejak Oktober tahun lalu.
Meski demikian, tanda-tanda kebangkitan mulai terlihat. Brasil mencetak total sembilan gol dalam dua laga persahabatan terakhir melawan Kroasia dan Panama.
Sorotan utama tertuju kepada Vinicius Junior. Walaupun Neymar kembali memperkuat tim nasional dan masih berstatus pencetak gol terbanyak sepanjang masa Brasil dengan 79 gol dari 128 pertandingan, Vinicius tetap dianggap sebagai wajah utama Selecao saat ini.
Penyerang Real Madrid itu mencatatkan 22 gol dan 14 assist di semua kompetisi selama musim 2025-26. Ia juga datang ke turnamen dengan ambisi besar untuk membuktikan diri di panggung terbesar sepak bola dunia.
Maroko Datang dengan Pertahanan Solid
Maroko kembali menjadi salah satu wakil Afrika yang layak diperhitungkan. Mereka memasuki turnamen dengan modal hasil yang sangat konsisten dalam dua tahun terakhir.
Sejak Januari 2024, Maroko belum pernah kalah dalam waktu normal pada level internasional senior. Catatan pertahanan mereka juga impresif dengan hanya kebobolan tiga gol dalam 11 pertandingan sejak Piala Afrika dimulai pada Desember lalu.
Selain mencetak sembilan gol saat menghadapi Burundi dan Madagaskar, Maroko juga menunjukkan kualitas saat bermain imbang 1-1 melawan Ekuador serta mengalahkan Paraguay 2-1 pada Maret.
Pemain paling berpengaruh dalam skuad ini adalah Achraf Hakimi. Bek kanan Paris Saint-Germain tersebut baru saja membantu klubnya meraih gelar Liga Champions kedua secara beruntun.
Dengan 95 penampilan bersama tim nasional, Hakimi membawa kombinasi pengalaman, kualitas bertahan, dan kontribusi menyerang yang sangat penting bagi Maroko.
Skotlandia Akhiri Penantian 28 Tahun
Skotlandia akhirnya kembali ke Piala Dunia setelah absen selama hampir tiga dekade.
Kemenangan 4-2 atas Denmark pada November menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan mereka menuju Amerika Utara. Gol spektakuler Scott McTominay dan gol Kenny McLean dari dekat garis tengah lapangan memastikan tiket yang sudah lama dinanti.
Meski sukses lolos, performa Skotlandia menjelang turnamen belum sepenuhnya stabil. Mereka menelan kekalahan dari Yunani, Jepang, dan Pantai Gading dalam lima pertandingan terakhir. Satu-satunya kemenangan lain diraih saat menghadapi Curacao.
Tokoh sentral tim ini adalah Scott McTominay. Gelandang Napoli tersebut telah mencetak 14 gol dari 69 penampilan internasional.
Kemampuan mencetak gol, fleksibilitas bermain di beberapa posisi, serta kualitas kepemimpinannya membuat McTominay menjadi sosok yang sangat penting bagi ambisi Skotlandia menembus fase gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah partisipasi mereka di Piala Dunia.
Haiti Ingin Menjadi Kejutan Grup C
Haiti kembali tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974.
Mereka lolos setelah finis di atas Honduras dan Kosta Rika dalam grup kualifikasi CONCACAF. Dua kemenangan terakhir memastikan posisi puncak sekaligus tiket menuju putaran final.
Sejak itu Haiti menjalani tiga pertandingan di Amerika Serikat. Setelah kalah tipis 0-1 dari Tunisia pada Maret, mereka bangkit dengan kemenangan telak 4-0 atas Selandia Baru pada 2 Juni.
Nama yang paling layak mendapat perhatian adalah Duckens Nazon. Penyerang berusia 32 tahun itu tampil tajam sejak awal 2024 dengan mencetak 16 gol dari 24 pertandingan internasional.
Secara keseluruhan, Nazon sudah mengoleksi 44 gol dari 81 penampilan bersama Haiti dan menjadi tumpuan utama untuk menghadirkan kejutan di Grup C.
Laga Kunci Grup C
Pertemuan Skotlandia melawan Haiti pada laga pertama diperkirakan menjadi salah satu duel paling menentukan dalam perebutan posisi ketiga.
Pertandingan tersebut akan digelar di Foxborough dan berpotensi menentukan arah perjalanan kedua tim di fase grup.
Jika gagal meraih hasil positif, peluang untuk lolos akan semakin berat karena mereka masih harus menghadapi Brasil dan Maroko pada laga berikutnya.
Prediksi Grup C – Klasemen Akhir
Brasil tetap menjadi favorit utama untuk memuncaki klasemen. Kualitas individu yang mereka miliki masih berada di atas tiga pesaing lainnya.
Maroko diprediksi mampu mengamankan posisi kedua berkat konsistensi performa dan pertahanan yang sangat solid. Sementara Skotlandia dan Haiti diperkirakan akan bersaing ketat untuk menghindari posisi juru kunci.
Prediksi klasemen akhir:
- Brasil 9 poin
- Maroko 6 poin
- Skotlandia 3 poin
- Haiti 0 poin
Opini Gilabola.com
Di atas kertas, Grup C terlihat sebagai salah satu grup yang paling mudah diprediksi. Brasil dan Maroko memiliki kualitas skuad yang cukup jauh dibanding dua rival lainnya.
Meski begitu, Brasil masih menyisakan tanda tanya setelah perjalanan kualifikasi yang tidak terlalu meyakinkan. Jika ada tim yang bisa membuat persaingan menjadi lebih menarik, Maroko tampaknya memiliki peluang terbesar. Rekor pertahanan mereka menunjukkan bahwa tim Afrika tersebut bukan sekadar pelengkap.
Sementara itu, Skotlandia dan Haiti kemungkinan harus memanfaatkan pertemuan langsung mereka jika ingin menjaga harapan lolos tetap hidup hingga laga terakhir.
