
Real Madrid memang gagal mendapatkan Rodri. Mereka juga membuat keputusan berani dengan mengeluarkan sekitar Rp2,38 triliun untuk pemain berusia 19 tahun. Kritik pun muncul, terutama karena klub belum menambah bek tengah selain Ibrahima Konaté.
Namun jika bursa transfer musim panas 2026 dilihat secara utuh, pekerjaan Jose Mourinho tidak bisa dibilang buruk.
Mourinho mendatangkan pemain di sejumlah posisi yang memang membutuhkan tambahan tenaga. Ada bek sayap, penyerang target, pemain berpengalaman, sampai winger kanan dengan karakter yang sudah lama tidak dimiliki Real Madrid.
Yang tak kalah menarik adalah bisnis dari akademi.
Real Madrid disebut telah menghasilkan lebih dari Rp3,8 triliun dari penjualan pemain akademi saja. Gonzalo Garcia menjadi salah satu contoh paling mencolok.
Cucurella Bisa Jadi Rekrutan yang Paling Underrated!
Marc Cucurella mungkin bukan nama yang paling membuat publik Madrid bersemangat. Justru itu yang membuat transfernya menarik.
Bek kiri asal Spanyol tersebut punya karakter yang sangat cocok dengan kebutuhan tim. Ia tidak keberatan melakukan pekerjaan kotor agar pemain lain bisa bermain lebih bebas.
Cucurella pernah menjelaskan hubungannya dengan Nico Williams saat Euro 2024. Ketika itu, ia bertugas menjaga keseimbangan agar Williams bisa fokus menyerang.
Kini pendekatan yang sama ia tawarkan untuk Vinicius Jr.
“Saya tidak peduli jika dia tidak ikut turun, saya akan melakukan semua pekerjaan kotor yang tidak ingin dia lakukan,” kata Cucurella kepada Marca.
Bagi Real Madrid, pemain seperti ini sangat berharga. Skuad mereka sudah dipenuhi bintang. Yang dibutuhkan bukan hanya pemain yang ingin mendapat sorotan, tetapi juga pemain yang rela bekerja di belakang layar.
Kemampuan Cucurella juga jauh lebih lengkap daripada sekadar pekerja keras.
Ia disebut berada di persentil ke-91 untuk kombinasi tekel dan intersep di antara bek kiri. Ia nyaman bermain sebagai bek kiri inverted, punya kemampuan umpan jarak pendek yang sangat baik, serta mampu menjaga penguasaan bola.
Yang membuatnya semakin menarik adalah fleksibilitas taktis.
Rodrigo Tarin, mantan rekan Cucurella di akademi Barcelona, pernah menggambarkan dirinya sebagai pemain yang sangat terbuka terhadap kritik. Ia mau mendengar, memperbaiki kesalahan, dan memahami instruksi.
Fran Gargarza, direktur olahraga Eibar, juga menilai Cucurella sebagai pemain tanpa ego yang terus berkembang di setiap klub.
Itulah tipe pemain yang tampaknya dicari Mourinho.
Bahkan Alvaro Carreras kini harus menunjukkan bahwa dirinya layak menjadi pelapis Cucurella.
Dumfries Memberi Opsi Berbeda di Sayap
Denzel Dumfries menjadi tambahan lain yang sangat masuk akal.
Real Madrid kini memiliki Dumfries, Trent Alexander-Arnold, Cucurella, dan Carreras sebagai pilihan utama di posisi bek sayap, dengan Ferland Mendy juga masih berada dalam skuad.
Situasi tersebut jauh berbeda dari musim 2024/2025 ketika Carlo Ancelotti lebih sering mengandalkan Lucas Vazquez dan Fran Garcia.
Dumfries membawa karakter yang berbeda dari Trent. Ia memang tidak memiliki kemampuan umpan jauh seperti bek kanan Inggris tersebut, tetapi secara defensif lebih kuat.
Pemain Belanda itu juga berbahaya di kotak penalti. Ia berada di persentil ke-95 untuk sentuhan di kotak penalti di antara para wing-back.
Kemampuannya menyambut umpan silang, menyerang tiang jauh, serta memenangkan duel udara bisa menjadi senjata tambahan.
Pertanyaan besarnya justru bagaimana Mourinho akan membagi peran Dumfries dan Trent.
Keduanya bisa saja digunakan dengan pendekatan berbeda sesuai lawan.
Carlos Espi Hadir untuk Satu Tugas
Real Madrid juga akhirnya mendapatkan sosok yang bisa mengisi peran seperti Joselu.
Carlos Espi bukan penyerang yang dituntut aktif di semua area lapangan. Kekuatannya justru berada di tempat paling penting bagi seorang striker: kotak penalti.
Ia sangat pintar mencari ruang di antara garis pertahanan, masuk ke kotak penalti tanpa terdeteksi, lalu berburu umpan silang maupun cut-back.
Espi berada di persentil ke-96 untuk sentuhan di kotak penalti.
Dengan tinggi sekitar 193 cm, ia juga punya ancaman udara yang jelas.
Perkembangannya cukup mencolok. Dua musim lalu ia mencetak enam gol dari 37 pertandingan. Musim berikutnya, jumlahnya naik menjadi 13 gol dari 27 laga.
Espi juga berada di persentil ke-80 dalam tingkat konversi sebagai finisher.
Transfer ini datang secara cepat. Setelah rumor muncul, Real Madrid langsung mengumumkannya beberapa jam kemudian. Sehari berselang ia sudah berlatih, lalu dua hari setelahnya tampil dalam laga pramusim melawan Fiorentina.
Ini salah satu bentuk kerja transfer yang ingin dilihat dari Mourinho: menemukan kebutuhan skuad dan bergerak cepat.
Fran Garcia Pergi, Tapi Real Madrid Masih Punya Kepentingan
Dengan empat bek kiri dalam skuad, salah satu memang harus pergi.
Cucurella baru datang. Carreras baru menjalani satu musim. Ferland Mendy sulit dipindahkan karena usia dan masalah cedera.
Fran Garcia akhirnya menjadi pilihan paling realistis.
Keputusan itu memang bisa diperdebatkan. Bahkan ada argumen bahwa Fran merupakan bek kiri terbaik Real Madrid musim lalu.
Namun Real Madrid tetap melepasnya ke Real Betis dengan nilai sekitar Rp76 miliar.
Angka itu terlihat kecil jika dibandingkan dengan potensi pasarnya, tetapi Madrid mempertahankan 50 persen hak atas sang pemain. Mereka juga tetap menjaga hubungan baik dengan Betis.
Artinya, ada kemungkinan besar Real Madrid tetap mendapatkan keuntungan jika nilai Fran meningkat di masa depan.
Fran sendiri berpotensi kembali tampil lebih agresif di Betis. Saat masih di Rayo Vallecano, ia lebih sering menjadi bagian penting dari serangan.
Manuel Pellegrini juga menyukai winger yang masuk ke tengah dan memberikan ruang bagi full-back untuk melakukan overlap.
Bisa jadi, justru di sana Fran menemukan versi terbaik dirinya.
Gonzalo Garcia dan Bisnis Akademi yang Sangat Menguntungkan
Kepergian Gonzalo Garcia mungkin lebih sulit diterima secara emosional.
Ia merupakan salah satu talenta akademi yang paling menarik. Tetapi realitasnya sederhana: peluang menjadi penyerang utama Real Madrid di era Kylian Mbappe sangat terbatas.
Gonzalo akhirnya pindah ke Fulham dengan nilai sekitar Rp760 miliar.
Angka tersebut menjadikannya penjualan akademi termahal keempat Real Madrid setelah Alvaro Morata, Nico Paz, dan Achraf Hakimi.
Namun Madrid tidak melepas semua kendali.
Klub mempertahankan 30 persen haknya serta memiliki hak penolakan pertama. Jika suatu saat Gonzalo hendak dijual dengan nilai Rp1,9 triliun, Real Madrid dapat menebusnya dengan sekitar Rp1,33 triliun.
Jika Madrid memilih tidak mengambilnya dan pemain tersebut dijual ke klub lain, Real Madrid tetap memperoleh sekitar Rp570 miliar.
Untuk pemain yang langsung dijual dari akademi dan belum lebih dulu membangun reputasi di klub lain, itu merupakan bisnis yang sangat kuat.
Gonzalo kini akan melanjutkan perkembangannya bersama Fulham. Football intelligence, insting tanpa bola, penyelesaian akhir, dan kemampuan hold-up menjadi modalnya.
Diomande Membawa Tekanan Terbesar
Yan Diomande datang dengan tekanan yang tidak kecil.
Nilai transfer sekitar Rp2,38 triliun membuatnya menjadi pemain termahal dalam sejarah Real Madrid.
Tetapi angka tersebut juga harus dilihat bersama potensinya.
Di usia 19 tahun, Diomande sudah berada di persentil ke-95 di Eropa untuk successful dribbles dan progressive carries.
Ia bukan hanya winger yang mampu melewati lawan. Diomande juga punya kemampuan melakukan pressing dan membantu pertahanan dari sisi lapangan.
Karakter itu sangat penting karena Trent Alexander-Arnold juga membutuhkan perlindungan defensif.
Ada yang mungkin bertanya mengapa Real Madrid harus mengeluarkan uang sebesar itu untuk winger lain.
Jawabannya ada pada sistem Mourinho.
Dalam skema 4-2-3-1, Mourinho membutuhkan winger kanan yang benar-benar bisa menjaga keseimbangan dengan sisi kiri. Di skuad sebelumnya, tidak ada pemain yang menawarkan kombinasi tersebut.
Karena itu, Diomande bukan sekadar pembelian berdasarkan potensi.
Ia juga menjawab kebutuhan taktis.
Bernardo Silva Makin Penting Setelah Rodri Gagal Didapat
Bernardo Silva juga dipandang sebagai pemain yang bisa mengejutkan mereka yang meragukan transfernya.
Ia masih punya kemampuan mengontrol penguasaan bola, keluar dari tekanan, membawa bola ke depan, dan memberikan kontribusi defensif yang besar.
Kegagalan mendapatkan Rodri membuat peran Silva semakin penting.
Real Madrid memang tidak mendapatkan pemain yang mereka incar, tetapi kedatangan Silva memberikan kualitas lain untuk membantu mengontrol permainan.
Konaté Jadi Salah Satu Faktor Penentu
Ibrahima Konaté mungkin menjadi salah satu transfer yang paling menentukan musim Real Madrid.
Bukan karena ia pemain termahal atau paling mencolok, melainkan karena kebutuhan terhadapnya sangat besar.
Kondisi Eder Militao dan ketidakpastian kedalaman bek tengah membuat Real Madrid kemungkinan akan sangat bergantung pada Konaté.
Versi terbaik Konaté adalah bek yang kuat secara fisik, mampu menguasai area kotak penalti, tahan terhadap pressing, nyaman membawa bola, dan cepat.
Namun ia juga datang setelah periode yang sangat berat secara pribadi.
Konaté kehilangan sahabatnya, Diogo Jota, sebelum musim dimulai. Ayahnya kemudian meninggal dunia. Ia sempat mengambil waktu untuk menepi dan kemudian berbicara terbuka mengenai depresi yang dialaminya.
Performanya belakangan juga lebih sering diwarnai kesalahan.
Di sinilah Mourinho punya pekerjaan besar.
Jika Mourinho berhasil mengembalikan Konaté ke level terbaiknya, Real Madrid akan mendapatkan bek yang sangat penting. Jika tidak, masalah di lini belakang bisa kembali muncul.
Palacios dan Mastantuono Masih Butuh Waktu
Cesar Palacios juga meninggalkan Madrid untuk bergabung dengan Fulham.
Ia bermain di posisi yang sangat padat di Real Madrid. Namun bakatnya tidak diragukan.
Palacios memiliki kemampuan teknis dan insting yang sulit diajarkan. Sentuhan pertamanya serta kemampuannya keluar dari tekanan menjadi salah satu kekuatan utama.
Ada keyakinan bahwa nilainya bisa meningkat tajam dalam beberapa tahun mendatang.
Sementara itu, Franco Mastantuono memang membutuhkan masa peminjaman.
Ia baru berusia 19 tahun dan harus beradaptasi dengan sepak bola Eropa. Kemampuan pressing, pergerakan, serta aksinya memotong ke dalam sudah menunjukkan potensi.
Tetapi masih ada pekerjaan rumah.
Sentuhan pertamanya dinilai masih berat, kecepatannya belum seperti winger tradisional, dan kualitas umpannya belum cukup matang untuk menjadi kreator yang konsisten.
Mastantuono sendiri sadar masih harus memperbaiki permainan bertahannya. Namun pekerjaan terbesarnya justru ada pada aspek menyerang.
Ia harus menjadi dribbler pemecah garis yang lebih produktif, sekaligus memperbaiki sentuhan dan umpannya.
