Dari Raja Eropa Jadi Bahan Bully, Real Madrid Kini Dipenuhi Konflik dan Pemain Bertengkar

Gilabola.com – Real Madrid benar-benar menutup musim ini dengan wajah kusut. Saat Barcelona pesta gelar LaLiga di Camp Nou, Los Blancos justru pulang membawa rasa malu, frustrasi, dan sederet masalah yang belum selesai.

Kemenangan Barcelona 2-0 di El Clasico akhir pekan lalu terasa menjadi simbol betapa jauhnya jarak kedua tim musim ini. Bukan cuma soal skor pertandingan, tetapi juga dominasi Barca di klasemen yang kini unggul 14 poin.

Bahkan, selisih itu masih bisa makin melebar dalam tiga laga terakhir musim ini. Barcelona sudah mengoleksi 91 poin dan berpeluang tembus angka 100 poin, sesuatu yang baru dua kali terjadi dalam sejarah LaLiga.

Situasi ini makin menyakitkan bagi Madrid jika mengingat mereka baru saja mengangkat trofi Liga Champions di Wembley pada 2024 lalu. Namun sejak saat itu, Real Madrid malah masuk ke periode suram dengan dua musim tanpa gelar besar. Untuk klub sebesar Madrid, itu jelas bencana.

Efek Mbappe Mulai Dipertanyakan

Kedatangan Kylian Mbappe secara gratis dari PSG awalnya dianggap transfer sempurna. Madrid merasa berhasil menambah salah satu mesin gol paling mematikan dunia ke skuad yang sudah kuat.

Namun sekarang situasinya berubah.

Beberapa pihak internal klub mulai mempertanyakan apakah transfer Mbappe memang keputusan yang tepat. Terutama karena Vinicius Junior saat itu sudah menjadi wajah utama tim dan kandidat Ballon d’Or.

Ada anggapan bahwa transfer Mbappe lebih merupakan proyek pribadi Florentino Perez dibanding kebutuhan taktik tim.

Secara statistik, Mbappe sebenarnya tetap gacor. Musim lalu ia mencetak 31 gol di LaLiga dan musim ini sudah mengoleksi 24 gol. Tapi di atas lapangan, keseimbangan tim justru pecah.

Carlo Ancelotti, Xabi Alonso sampai Alvaro Arbeloa disebut kesulitan menemukan formula yang pas untuk menyatukan Mbappe, Vinicius dan Jude Bellingham dalam satu sistem permainan.

Hasilnya mulai terasa brutal.

Madrid kalah empat kali dari Barcelona musim lalu. Musim ini mereka memang sempat menang 2-1 di El Clasico bulan Oktober, tetapi juga dihajar Atletico Madrid 5-2 dan sudah menelan enam kekalahan di LaLiga.

Di Liga Champions, catatan Mbappe bersama Madrid juga tak terlalu indah. Dari 25 laga yang dijalaninya, Madrid kalah 10 kali, termasuk saat tersingkir dari Arsenal dan Bayern Munchen.

Cedera juga membuat situasi makin rumit. Mbappe absen di beberapa laga besar melawan Manchester City, Benfica dan El Clasico terakhir.

Yang paling bikin heboh, penyerang Prancis itu sempat pergi liburan bersama pasangannya saat proses pemulihan cedera. Ia bahkan baru kembali ke Madrid beberapa menit sebelum rekan-rekannya menghadapi Espanyol.

Keputusan itu memicu kritik besar. Apalagi saat El Clasico di Camp Nou, dukungan Mbappe hanya berupa unggahan “Hala Madrid” di Instagram ketika timnya sudah tertinggal 2-0.

Kini tekanan terhadap Mbappe dipastikan bakal jauh lebih besar musim depan.

Xabi Alonso Gagal Kuasai Ruang Ganti

Madrid sebenarnya sempat berharap Xabi Alonso bisa memperbaiki situasi setelah era Carlo Ancelotti yang dianggap terlalu longgar terhadap pemain.

Eks pelatih Bayer Leverkusen itu datang dengan misi membawa disiplin baru dan permainan yang lebih kolektif. Namun semuanya gagal total.

Alonso cuma bertahan 233 hari.

Beberapa sumber internal menyebut banyak pemain senior sejak awal tidak terlalu yakin dengan Alonso. Bahkan Florentino Perez juga disebut memiliki keraguan terhadap sang pelatih.

Vinicius, Federico Valverde dan Jude Bellingham termasuk nama yang disebut kurang percaya dengan proyek Alonso.

Konflik makin pecah saat Alonso beberapa kali mencadangkan Vinicius demi memberi ruang lebih besar kepada Mbappe.

Puncaknya terjadi di El Clasico bulan Oktober ketika Vinicius marah besar setelah ditarik keluar. Ia mempertanyakan keputusan Alonso secara terbuka di depan publik.

Parahnya lagi, pihak klub tidak memberikan dukungan penuh kepada Alonso setelah insiden itu. Otoritas sang pelatih langsung runtuh.

Ruang ganti mulai terbelah.

Ada pemain yang mendukung Alonso, ada juga yang menentangnya. Situasi itu bertahan sampai sekarang.

Saat performa Madrid tak kunjung membaik, Alonso akhirnya dipecat pada Januari.

Arbeloa Sempat Bangkitkan Madrid

Pengganti Alonso, Alvaro Arbeloa, awalnya sempat memberi harapan baru.

Ia berhasil mendekati pemain-pemain penting Madrid dan mencoba membangun kembali suasana ruang ganti.

Arbeloa bahkan tak ragu memuji para pemainnya habis-habisan di depan media. Vinicius disebut sebagai gambaran pemain Real Madrid sejati, sementara Federico Valverde dianggap punya spirit legenda klub, Juanito.

Awalnya strategi itu berhasil.

Madrid menang 17 kali dalam 21 laga pertama Arbeloa. Mereka bahkan mampu mengalahkan tim asuhan Jose Mourinho, Pep Guardiola dan Diego Simeone.

Vinicius juga tampil menggila dan kembali menemukan performa terbaiknya.

Namun semuanya runtuh memasuki fase krusial musim.

Madrid mulai kehilangan poin lawan Mallorca, Girona dan Real Betis. Harapan juara LaLiga perlahan menghilang.

Di Liga Champions, mereka disingkirkan Bayern Munchen dengan agregat 6-4.

Masalah lain juga muncul di balik layar.

Antonio Rudiger dilaporkan sempat bentrok dengan Alvaro Carreras. Hubungan Arbeloa dengan Dani Carvajal, Dani Ceballos dan Raul Asencio juga disebut memburuk.

Belum selesai sampai di situ, Federico Valverde bahkan dikabarkan mengalami cedera kepala setelah terlibat pertengkaran dengan Aurelien Tchouameni menjelang El Clasico penentuan gelar.

Kedua pemain kabarnya didenda 500 ribu Euro.

Kini sesi latihan Madrid disebut lebih banyak fokus menjaga suasana tim tetap tenang dibanding urusan taktik. Tapi hasilnya tetap nihil.

Florentino Perez Ikut Jadi Sorotan

Masalah Madrid ternyata tidak cuma terjadi di lapangan.

Florentino Perez juga sedang menghadapi tekanan besar di luar sepak bola.

Proyek Super League yang selama ini diperjuangkannya mulai melemah setelah Madrid akhirnya mencapai kesepakatan dengan UEFA.

Renovasi stadion Bernabeu senilai 1 miliar Euro juga terkena masalah hukum terkait kebisingan konser.

Selain itu, rencana perubahan struktur kepemilikan klub juga belum menunjukkan perkembangan jelas.

Di tengah kekacauan ini, Perez mulai dituduh terlalu memanjakan para pemain bintang.

Situasi tersebut mengingatkan banyak orang pada era Galacticos dulu, ketika Madrid dipenuhi pemain besar tetapi gagal menjadi tim yang solid.

Revolusi Besar Menanti Madrid

Musim panas nanti dipastikan menjadi momen paling menentukan untuk Real Madrid.

Klub harus menentukan pelatih baru, mencari pemain yang tepat dan membereskan konflik internal yang terus mengganggu ruang ganti.

Nama Jose Mourinho kini mulai muncul sebagai kandidat pelatih berikutnya.

Namun pekerjaan yang menunggu jelas tidak mudah.

Dana transfer Madrid disebut terbatas jika mereka tidak menjual pemain lebih dulu. Sementara rekrutan musim panas lalu seperti Trent Alexander-Arnold, Dean Huijsen, Alvaro Carreras dan Franco Mastantuono belum benar-benar memberi dampak besar.

Belum lagi masalah kontrak Vinicius yang masih belum selesai dan akan habis pada 2027.

Kini pertanyaannya tinggal satu.

Apakah musim buruk ini sudah menjadi titik terendah Real Madrid, atau justru mereka masih akan jatuh lebih dalam lagi?

Ikuti Gilabola.com di Google News