Ada situasi ketika seorang pelatih tidak lagi punya kemewahan memilih berdasarkan preferensi. Jose Mourinho mungkin sedang berada di titik itu.
Real Madrid akan mengawali perjalanan mereka di Liga Champions dengan menghadapi Inter Milan di Santiago Bernabeu. Persoalannya, Mourinho harus menyusun lini tengah dalam kondisi pilihan yang sangat terbatas. Dari situ muncul sebuah gagasan yang tidak biasa: Trent Alexander-Arnold digeser ke tengah untuk menemani Fede Valverde.
Menurut Alberto Pereiro yang dikutip Madrid Zone, Mourinho sedang mempertimbangkan kemungkinan memainkan pemain internasional Inggris tersebut sebagai bagian dari double pivot.
Bukan karena posisi itu menjadi pilihan utama. Justru sebaliknya. Keadaan yang memaksa.
Krisis Posisi Tengah Real Madrid
Real Madrid kehilangan sejumlah opsi penting di lini tengah akibat skorsing. Eduardo Camavinga, Bernardo Silva, dan Arda Guler dipastikan tidak tersedia untuk pertandingan melawan Inter. Situasinya semakin rumit karena keterlibatan Aurelien Tchouameni juga masih belum pasti. Sang gelandang disebut belum diperkirakan siap untuk tampil sebagai starter.
Mourinho pun menghadapi persoalan yang lebih besar. Akademi bisa menjadi sumber pemain untuk melengkapi skuad. Bahkan, bukan tidak mungkin pemain muda harus masuk dalam pertimbangan untuk starting XI.
Dalam keadaan seperti itu, Alexander-Arnold mulai terlihat sebagai alternatif yang masuk akal.
Bakat teknisnya memang mendukung gagasan tersebut. Kemampuan mengirim umpan jarak jauh dan membaca celah dari posisi yang lebih dalam dapat memberi Real Madrid sumber kreativitas tambahan dari lini tengah. Terlebih, mereka datang ke pertandingan ini setelah minim kreasi dalam kekalahan dari Betis.
Ada kebutuhan untuk mengubah sesuatu. Dan mungkin Alexander-Arnold bisa menjadi bagian dari perubahan itu.
Jadikan Gilabola.com sumber berita pilihan Anda!
Valverde Menjadi Penyeimbang
Jika Alexander-Arnold benar-benar ditempatkan dalam double pivot bersama Valverde, pembagian tugas keduanya akan menjadi sangat penting.
Alexander-Arnold dapat mengambil peran sebagai pengatur tempo. Bola bisa mengalir melalui kakinya sebelum diarahkan dengan umpan panjang menuju area serangan.
Valverde punya tugas berbeda. Energinya dibutuhkan untuk bergerak menutup ruang, memberikan perlindungan defensif, sekaligus menghadirkan kekuatan fisik yang diperlukan agar eksperimen tersebut tidak kehilangan keseimbangan.
Satu mengatur. Satu berlari.
Dari sanalah gagasan Mourinho menjadi menarik. Alexander-Arnold tidak harus dipaksa menjadi gelandang dalam pengertian tradisional. Ia cukup diberi ruang untuk menggunakan kualitas terbaiknya, sementara Valverde menanggung bagian pekerjaan yang lebih berat secara fisik dan defensif.
Tentu saja, perubahan itu akan membawa konsekuensi taktis. Mourinho harus berani keluar dari pola yang biasanya ia inginkan.
Ruang untuk Dumfries
Eksperimen tersebut juga membuka konsekuensi lain di sisi kanan. Alexander-Arnold yang bergerak ke tengah akan membuat posisi bek kanan dapat ditempati Dumfries. Pergeseran itu memungkinkan struktur permainan Real Madrid berubah tanpa harus menghilangkan seluruh fungsi yang selama ini dimiliki Alexander-Arnold.
Menariknya, justru di situlah eksperimen tersebut memiliki logikanya.
Alexander-Arnold tetap berada di area yang memungkinkan kualitas umpannya digunakan, sementara Dumfries mengambil ruang di sisi kanan. Real Madrid mendapatkan konfigurasi baru untuk menghadapi keterbatasan mereka.
Meskipun begitu, tidak ada jaminan bahwa perubahan posisi otomatis menghasilkan permainan yang lebih baik.
Liga Champions bukan panggung untuk eksperimen tanpa risiko.
Kreativitas yang Dicari
Real Madrid membutuhkan sesuatu yang berbeda. Kekalahan dari Betis memperlihatkan kurangnya kreativitas yang kemudian menjadi salah satu alasan mengapa kemampuan Alexander-Arnold dari area yang lebih dalam bisa menarik perhatian Mourinho.
Pemain asal Inggris itu memiliki jangkauan umpan yang dapat membuka permainan dari jarak jauh. Ketika ditempatkan bersama Valverde, perannya dapat dibuat lebih spesifik: mengendalikan aliran bola dan mencari jalur menuju lini serang.
Valverde, sementara itu, menjadi pelindungnya. Itulah bentuk komprominya.
Tidak sempurna. Tidak konvensional. Tetapi dalam sepak bola, solusi terbaik terkadang lahir bukan dari situasi ideal, melainkan dari keterbatasan yang memaksa seorang pelatih berpikir lebih jauh.
Ujian Awal Mourinho di Madrid
Inter Milan datang ke Santiago Bernabeu ketika Real Madrid sendiri sedang menghadapi persoalan internal di lini tengah. Dan Mourinho harus menjawabnya.
Kompetisi Liga Champions baru dimulai, tetapi pertandingan pembuka di kandang membawa beban tersendiri. Real Madrid tidak boleh membiarkan pertandingan pertama berubah menjadi sumber hilangnya kepercayaan diri.
Alexander-Arnold bisa menjadi jawaban. Atau justru menjadi perjudian besar.
Terlepas dari perdebatan itu, satu hal menjadi jelas: absennya sejumlah gelandang membuat Mourinho harus menunjukkan kemampuan beradaptasi. Ia tidak lagi hanya dituntut memilih pemain terbaik yang tersedia, tetapi juga menemukan cara agar pemain-pemain tersebut dapat membentuk struktur yang tetap masuk akal.
Inter akan menjadi ujian pertama!


