Luar biasa. Manchester United baru saja menolak menyerah. Tertinggal dua gol di Old Trafford, mereka mengamuk di babak kedua dan menumbangkan AS Roma dalam duel sengit Liga Champions.
Perlu pula Anda tahu bahwa Setan Merah sempat berada di ujung tanduk. Gara-gara start buruk, gawang mereka jebol dua kali dalam kurun waktu 17 menit saja.
Padahal, kubu tamu datang dengan kepala tegak. Belum lama ini kami amati catatan mereka, Roma sama sekali belum tersentuh kekalahan dari 10 laga Serie A musim ini.
Tekanan hebat tentu saja mengarah ke sang juru taktik. Sembilan laga tanpa kemenangan membuat posisi Michael Carrick di kursi manajer kian terancam. Bayangkan, United musim ini baru mencatatkan dua kemenangan saja di semua kompetisi. Kekalahan di depan mata terasa sangat nyata.
Tapi, mentalitas bicara lain! Tapi, tunggu dulu. Kemenangan ini tidak diraih dengan mudah.
Babak Pertama Yang Berantakan
Babak pertama? Berantakan. Luar biasa buruk. Belum juga 11 menit pertandingan berjalan, gawang tuan rumah sudah jebol. Kobbie Mainoo ceroboh di lini tengah. Matias Soule langsung menghukum dengan aksi brilian memanfaatkan ruang kosong di belakang Diogo Dalot. Senne Lammens tak berkutik.
Tak berselang lama, petaka susulan datang.
Soule kembali berdiri tanpa pengawalan ketat. Sepakannya membentur tangan Ayden Heaven di kotak terlarang. Donyell Malen maju sebagai eksekutor. Gol. Roma menjauh 2-0.
Catatan kelam tercipta malam itu. Belum pernah sepanjang sejarah United kebobolan dua gol secepat itu di Old Trafford dalam ajang Eropa.
Jadikan Gilabola.com sumber berita pilihan Anda!
Performa lini belakang memang mengkhawatirkan. Posisi Diogo Dalot kerap kedodoran. Harry Maguire sibuk memadamkan api sendirian di jantung pertahanan. Alhasil, cemoohan suporter pun pecah saat turun minum. Wajar. Babak pertama milik Roma seutuhnya.
Babak Kedua Milik Matheus Cunha
Nah, cerita berubah total usai turun minum.
Anak asuh Michael Carrick keluar kamar ganti dengan wajah berbeda. Lebih agresif. Lebih bernafsu. Carlos Baleba sempat menebar ancaman nyata lewat aksi solo run memukau. Sial bagi sang gelandang. Cedera hamstring memaksanya keluar lapangan lebih cepat. Youri Tielemans masuk menggantikan peran di lini tengah.
Matheus Cunha ambil alih panggung.
Gol penyama kedudukan lahir berkat insting tajam sang penyerang. Memanfaatkan blunder fatal di lini belakang Roma, Cunha langsung menyambar bola tanpa ampun. Skor berubah 2-2. Old Trafford bergetar.
Belum cukup sampai di situ.
Aksi kedua Cunha jauh lebih gila. Menerobos ke kotak penalti, ia melepaskan tembakan keras meluncur deras ke gawang lawan. Gol penentu kemenangan lahir. Comeback luar biasa. Atmosfer stadion langsung meledak.
Tapi, drama belum usai. Menjelang detik-detik akhir laga, pahlawan kemenangan itu justru diganjar kartu merah oleh wasit.
Kemenangan ini memang jadi suntikan mental yang sangat dibutuhkan Michael Carrick. Perlu pula Anda tahu bahwa ujian sesungguhnya baru akan dimulai. Jika lini belakang United masih keropos seperti babak pertama, mimpi di Eropa bakal lekas kandas.
Pahlawan Setan Merah
Babak kedua menjadi panggung pembuktian. Kapten Bruno Fernandes membuka jalan kebangkitan lewat eksekusi penalti dingin.
Selang tiga menit kemudian, Stadion Old Trafford bergemuruh. Matheus Cunha mencetak dua gol kilat yang langsung membalikkan keadaan dalam sekejap.
Malam yang tadinya nyaris berubah menjadi mimpi buruk, kini dikenang sebagai salah satu momen paling manis bagi publik Old Trafford. Carrick pun bisa bernapas sedikit lega usai mengamankan hasil krusial ini.
Jejak Sejarah Eropa
Tapi, perlu Anda catat. United bukan satu-satunya tim yang mampu mencuri kemenangan dari cengkeraman kekalahan di panggung megah Liga Champions.
Sejarah sepak bola Eropa menyimpan banyak kisah dramatis serupa. Pertandingan-pertandingan legendaris di mana klub-klub raksasa menolak tunduk meski tertinggal jauh di paruh pertama laga.


