Erling Haaland terancam kehilangan bonus besar jika Manchester City terdegradasi dari Premier League akibat kasus pelanggaran aturan finansial.
Man City akan kembali beraksi di Premier League dengan menghadapi Liverpool di Anfield pada Minggu (11/10/2026) setelah mendapat putusan mayoritas bersalah atas pelanggaran aturan finansial periode 2009 hingga 2018.
Belum ada pemain Man City yang memberikan komentar mengenai putusan tersebut. Situasi itu membuat masa depan sejumlah bintang The Citizens ikut menjadi sorotan.
Jika putusan tetap berlaku setelah proses banding, Man City menghadapi sejumlah hukuman. Sanksinya bisa berupa pengurangan poin, larangan bermain di liga, pengusiran dari kompetisi, pencabutan gelar, hingga degradasi otomatis.
Haaland Bisa Kehilangan Bonus Besar!
Jika benar turun kasta, sejumlah pemain utama Man City diperkirakan akan mempertimbangkan masa depan mereka. Haaland bahkan telah dikaitkan dengan Arsenal dan Barcelona.
Penyerang asal Norwegia itu mendapat gaji sekitar £500.000 per pekan atau sekitar Rp11 miliar. Haaland tidak memiliki klausul degradasi dalam kontraknya, tetapi potensi kehilangan bonus bisa menjadi pertimbangan.
Menurut laporan Daily Mail, kontrak pemain Man City terdiri dari tiga bagian, yakni gaji dasar, bonus lolos Liga Champions, serta bonus berdasarkan persentase menit bermain yang bisa dicapai sepanjang musim.
Dalam beberapa musim terakhir, kesuksesan Man City membuat hampir seluruh target bonus tersebut tercapai.
Masalahnya, bonus berdasarkan menit bermain hanya berlaku untuk Premier League, Liga Champions, Piala FA, dan Carabao Cup. Jika terdegradasi, bonus tersebut akan gugur.
Kondisi itu bisa membuat para pemain dengan bayaran tertinggi kehilangan ratusan ribu pound. Gaji dasar hanya menyumbang sekitar 60 hingga 75 persen dari total pendapatan pemain, sedangkan sisanya berasal dari bonus.
Perkembangan Kasus Man City
Man City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan yang diajukan Premier League setelah menjalani persidangan di hadapan komisi independen.
Dalam pernyataan di situs resminya, Premier League menyebut Man City menggunakan kontrak “palsu” untuk meningkatkan angka pendapatan dan menekan biaya.
Klub juga disebut mengatur skema pendanaan terselubung bersama mitra komersial dengan nilai lebih dari £830 juta atau sekitar Rp18,3 triliun.
Komisi juga menyatakan Man City bersalah atas hampir seluruh dakwaan terkait kegagalan bekerja sama dalam penyelidikan.
Man City telah mengajukan banding dan tetap mempertahankan posisi bahwa mereka tidak melakukan pelanggaran. Klub juga menyatakan memiliki “bukti komprehensif yang tidak terbantahkan” untuk mendukung pembelaannya.
Proses banding akan ditangani komisi beranggotakan tiga orang. Sidang tersebut diperkirakan berlangsung maksimal 12 pekan, dengan keputusan diharapkan keluar dalam 30 hari setelah proses berakhir.


