Real Madrid Masih Kesulitan Cari Pengatur Tempo di Lini Tengah Pasca Era Kroos-Modric

Kepergian Toni Kroos meninggalkan masalah yang lebih rumit bagi Real Madrid daripada sekadar mencari pemain dengan kemampuan mengumpan bola. Los Blancos membutuhkan sosok yang mampu mengatur kapan permainan harus dipercepat, kapan harus ditahan, sekaligus punya kemampuan mengirim umpan yang memecah lini lawan.

Setelah Kroos pensiun dan Luka Modric ikut meninggalkan Madrid, lini tengah klub tersebut belum memiliki pengatur permainan dengan volume distribusi bola seperti keduanya.

Real Madrid Kehilangan Pengatur Tempo

Pada musim terakhirnya di Real Madrid, Kroos mencoba lebih dari 100 umpan per 90 menit di La Liga dengan akurasi hampir 95 persen. Di Liga Champions, angkanya mencapai 82 percobaan umpan per 90 menit.

Bandingkan dengan musim lalu. Aurélien Tchouaméni menjadi gelandang Madrid dengan jumlah percobaan umpan tertinggi, tetapi hanya mencatat 65,5 umpan per 90 menit di La Liga dan 55,7 di Liga Champions.

Bahkan setelah Modric pergi, dua bek tengah justru menjadi pemain Madrid dengan jumlah percobaan umpan terbanyak per 90 menit. Antonio Rüdiger memimpin di La Liga, sedangkan Dean Huijsen menjadi yang tertinggi di Liga Champions.

Angka tersebut menggambarkan satu persoalan besar. Madrid punya banyak pemain berbakat di lini tengah dan depan, tetapi belum menemukan pemain yang secara konsisten menjadi pusat sirkulasi bola seperti Kroos.

Menariknya, masalahnya bukan semata-mata karena bola tidak dimainkan cukup cepat.

Kroos pada musim terakhirnya justru hanya memainkan 22,2 persen umpannya dengan satu sentuhan di La Liga. Sebanyak 53,7 persen umpannya dilepaskan dalam waktu kurang dari dua detik setelah menerima bola.

Dapatkan berita terupdate dari Gilabola.com di Google News. Tambahkan sebagai sumber pilihan

Luka Modric mencatat 23,5 persen umpan satu sentuhan dan 52,6 persen umpan yang dilepaskan dalam waktu kurang dari dua detik.

Tchouaméni dan Fede Valverde musim lalu malah memiliki persentase umpan satu sentuhan lebih tinggi, masing-masing 26,4 persen dan 26,3 persen. Untuk umpan yang dilepaskan dalam waktu kurang dari dua detik, Tchouaméni berada di 53,8 persen dan Valverde 53,3 persen.

Jadi, anggapan bahwa pengatur tempo harus selalu memainkan bola secepat mungkin tidak sepenuhnya tepat.

Pengatur tempo terbaik justru tahu kapan harus melepas bola dengan satu sentuhan, kapan menahannya beberapa detik, kapan membawa permainan ke depan, dan kapan mempertahankan penguasaan bola.

Vitinha menjadi contoh yang cukup jelas. Gelandang Paris Saint-Germain itu hanya memainkan 18,3 persen umpannya dengan satu sentuhan dalam situasi open play Ligue 1 musim lalu. Trio lini tengah PSG juga tidak memiliki persentase umpan cepat yang tinggi.

Vitinha mencatat 46,8 persen umpan dalam waktu kurang dari dua detik, Fabián Ruiz 44,1 persen, dan João Neves 49,4 persen.

Rodri juga berada di bawah 50 persen untuk kategori tersebut di Premier League, tepatnya 49,3 persen.

Artinya, kemampuan mengendalikan tempo lebih berkaitan dengan pengambilan keputusan daripada sekadar seberapa cepat bola berpindah dari kaki ke kaki.

Masalah Madrid Berikutnya: Umpan Pemecah Lini

Persoalan yang lebih terasa ada pada kemampuan mengirim umpan progresif yang mampu memecah lini pertahanan.

Analisis data dari Driblab untuk Managing Madrid menunjukkan tidak ada gelandang Real Madrid yang masuk 20 besar liga-liga top Eropa dalam kategori line-breaking passes per 90 menit musim lalu.

Salah satu penyebabnya adalah volume umpan para gelandang Madrid yang memang rendah.

Vitinha memimpin lima liga top Eropa dengan lebih dari 10 umpan pemecah lini per 90 menit. Manuel Locatelli dan Aleix García berada di posisi berikutnya dengan rata-rata lebih dari sembilan.

Dua nama tersebut bahkan sebelumnya disebut sebagai opsi berbiaya rendah untuk mengisi posisi gelandang pengatur permainan di Madrid.

Angelo Stiller dan Adam Wharton juga memberikan angka yang menarik.

Stiller menghasilkan hampir delapan umpan pemecah lini per 90 menit di Bundesliga, angka yang sebanding dengan Rodri di Premier League.

Wharton mencatat lebih dari enam per 90 menit. Jumlah itu semakin menarik karena ia hanya melakukan sedikit lebih dari 42 percobaan umpan per 90 menit. Hampir 16 persen umpan suksesnya merupakan line-breaking passes.

Namun, statistik tersebut juga memperlihatkan karakter Wharton. Ia lebih tepat disebut sebagai akselerator daripada pengontrol tempo.

Ada beberapa kandidat lain yang sering dikaitkan dengan Madrid, seperti Enzo Fernández, Alexis Mac Allister dan Martin Zubimendi. Namun, angka mereka dalam kategori ini tidak terlalu mengesankan.

Enzo mencatat sedikit di atas lima line-breaking passes per 90 menit. Zubimendi dan Mac Allister bahkan berada di bawah empat.

Enzo memang banyak bermain di posisi yang lebih maju bersama Chelsea, sehingga perannya turut memengaruhi jumlah umpan pemecah lini yang bisa dibuat. Meski begitu, angka tersebut tetap membuat sulit membayangkan bahwa mereka akan langsung memberikan peningkatan besar terhadap distribusi bola Madrid jika dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan Tchouaméni.

Mencari Pengganti Kroos Hampir Mustahil

Masalah Madrid menjadi semakin jelas ketika kemampuan umpan jauh ikut dihitung.

Kroos bukan hanya pengontrol tempo dan pengumpan pemecah lini. Ia juga memiliki kemampuan luar biasa dalam mengirim bola jarak jauh.

Pada musim terakhirnya di Madrid, Kroos mencatat akurasi umpan jauh 86,7 persen serta menyelesaikan 9,4 umpan jauh per 90 menit di La Liga dan Liga Champions.

Standar seperti itu sangat tinggi.

Apalagi lini depan Madrid kini memiliki tiga dari enam dribbler terbaik di lima liga top Eropa musim lalu setelah kedatangan Yan Diomandé. Gelandang yang mampu mengirim bola jauh secara konsisten tentu sangat berharga untuk memaksimalkan pemain-pemain tersebut.

Karena itu, Madrid sebenarnya tidak harus mencari pemain yang identik dengan Kroos. Mereka membutuhkan kombinasi kemampuan yang sama pentingnya: mampu mengatur tempo, memecah lini, dan mengirim bola jauh secara akurat.

Arda Güler Bisa Jadi Solusi Internal

Salah satu opsi yang menarik justru sudah berada di dalam skuad.

Arda Güler mencatat lebih dari enam line-breaking passes per 90 menit musim lalu. Angka tersebut dicapai ketika ia sempat bermain di posisi yang lebih maju, sebuah situasi yang membuat ruang untuk menemukan pemain di antara lini menjadi lebih sulit.

Güler juga menghasilkan angka tersebut dengan volume umpan yang jauh lebih rendah daripada Vitinha. Ia hanya mencoba 59,6 umpan per 90 menit, sementara Vitinha mencapai 116,4.

Jika Güler dimainkan lebih dalam, jumlah umpan pemecah lini yang berhasil dilakukannya berpotensi meningkat.

Kemampuan umpan jauhnya juga menjadi alasan lain untuk mempertimbangkannya.

Güler mencatat akurasi umpan jauh 71,1 persen di La Liga dan Liga Champions, serta menyelesaikan 3,3 umpan jauh per 90 menit.

Angka itu lebih baik daripada beberapa kandidat yang disebut sebagai target Madrid.

Adam Wharton memiliki akurasi umpan jauh 48,2 persen dengan 2,4 umpan sukses per 90 menit. Angelo Stiller mencatat 49,5 persen dan 2,6 umpan. Zubimendi berada di 50 persen dengan 1,7 umpan, sedangkan Enzo Fernández 58,7 persen dengan 2,5 umpan.

Bernardo Silva juga berada di bawah Güler dalam kategori tersebut, dengan akurasi 59 persen dan 2,1 umpan jauh sukses per 90 menit.

Tentu, angka Güler datang dari peran yang lebih maju. Jika dipindahkan lebih dalam, hasilnya masih harus dibuktikan di lapangan. Tetapi fondasinya sudah terlihat.

Aleix García Bisa Menjadi Opsi Cadangan

Jika Güler atau Bernardo Silva tidak mampu menjadi solusi di posisi yang lebih dalam, Aleix García dari Bayer Leverkusen bisa menjadi alternatif.

García menyelesaikan lebih dari enam umpan jauh per 90 menit musim lalu di Bundesliga dan Liga Champions. Ia menjadi satu dari hanya tiga gelandang yang mampu mencatat rata-rata lebih dari enam umpan jauh sukses per 90 menit di lima liga top Eropa dan Liga Champions, bersama Vitinha dan Kimmich.

Akurasi umpan dalamnya juga mencapai 76,7 persen.

Kemampuan tersebut bukan hal baru bagi García. Saat masih bersama Girona pada musim terakhirnya di La Liga, ia memimpin kompetisi dalam kategori umpan yang mengubah arah permainan.

Profilnya cukup jelas. García bukan hanya pengumpan jauh, tetapi juga memiliki karakter sebagai pengatur tempo.

Itulah sebabnya ia bisa menjadi semacam versi lebih sederhana dari Kroos jika Madrid akhirnya membutuhkan opsi baru dari luar klub.

Opini Gilabola.com

Menurut kami, Real Madrid tidak perlu terjebak dalam pencarian sosok yang harus menjadi “Toni Kroos baru”. Pemain dengan kombinasi kemampuan seperti Kroos sangat sulit ditemukan, bahkan dengan anggaran klub sebesar Madrid.

Yang lebih masuk akal adalah mencari fungsi yang ditinggalkan Kroos, bukan mencari pemain yang harus menirunya.

Dari data yang tersedia, masalah Madrid bukan sekadar kecepatan mengalirkan bola. Tchouaméni dan Valverde bahkan memiliki persentase umpan satu sentuhan yang lebih tinggi daripada Kroos pada musim terakhirnya.

Kebutuhan terbesar justru ada pada kualitas distribusi. Madrid membutuhkan gelandang yang mampu menentukan tempo, memecah lini lawan dan mengirim bola jauh ke depan secara konsisten.

Dalam konteks itu, Güler layak mendapat kesempatan lebih besar di posisi yang lebih dalam. Statistik umpan pemecah lini dan umpan jauhnya sudah memberikan alasan kuat untuk mengujinya.

Jika eksperimen tersebut gagal, Aleix García terlihat sebagai opsi yang paling mendekati profil yang dibutuhkan berdasarkan data sumber ini.

Madrid mungkin tidak akan pernah mendapatkan The Next Kroos. Mereka tidak harus mendapatkannya. Mereka hanya perlu menemukan cara baru untuk membuat lini tengah kembali memiliki pengendali permainan.