HomeLiga InggrisManchester United Terus Terpuruk, Benarkah Minim Investasi...

Manchester United Terus Terpuruk, Benarkah Minim Investasi Jadi Biang Kerok?

Manchester United kembali menelan kekalahan. Kali ini, bukan cuma hasil di lapangan yang menjadi sorotan, melainkan juga kritik keras Lisandro Martínez terhadap petinggi klub yang dinilai kurang memberikan dukungan finansial kepada tim.

Manchester United sedang tidak baik-baik saja.

Kekalahan 0-2 dari Atlético Madrid di Metropolitano pada ajang Liga Champions UEFA kembali memperlihatkan persoalan yang belum kunjung terselesaikan. Itu merupakan kekalahan ketiga Setan Merah dalam lima pertandingan terakhir.

Tapi, ada sesuatu yang jauh lebih menarik perhatian setelah pertandingan tersebut.

Lisandro Martínez, salah satu pemain senior di ruang ganti Manchester United, melontarkan kritik terbuka kepada jajaran petinggi klub. Dalam wawancara bersama Amazon Prime, bek asal Argentina itu menegaskan bahwa tim membutuhkan dukungan lebih besar di bursa transfer untuk bisa bersaing dengan para rivalnya.

Pernyataan tersebut terasa seperti membuka kembali persoalan lama di Old Trafford. Para pendukung sudah bertahun-tahun mengeluhkan kebijakan pemilik klub, mulai dari keluarga Glazer hingga Sir Jim Ratcliffe yang kini memegang saham minoritas.

Sekarang, suara itu datang dari dalam ruang ganti.

Martínez Sentil Petinggi Klub

Martínez memang tidak tampil sempurna saat Manchester United tumbang di Madrid. Ia turut menjadi bagian dari barisan pemain yang gagal menghindarkan timnya dari kekalahan.

Akan tetapi, di depan mikrofon, ia menyampaikan kritik yang cukup telak.

Jadikan Gilabola.com sumber berita pilihan Anda!

“Kami menjalani musim yang fantastis musim lalu dan sekarang kami mengharapkan lebih dari petinggi klub, lebih banyak pemain untuk bersaing, karena banyak tim juga mendatangkan banyak pemain,” ujar Martínez.

Ia mengakui Atlético Madrid memiliki skuad yang luar biasa dan pantas memenangkan pertandingan. Meski begitu, pemain berusia 28 tahun tersebut menilai Manchester United seharusnya melakukan investasi lebih besar.

Martínez bahkan secara langsung menyoroti Jason Wilcox, direktur sepak bola Manchester United.

“Saya mengharapkan investasi lebih besar. Seratus persen. Saya mengharapkan lebih dari direktur teknis kami,” katanya.

Kritiknya belum berhenti di sana.

Menurut Martínez, terlalu mudah menyalahkan pelatih atau pemain ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan. Ia meminta semua pihak melihat persoalan yang lebih luas, termasuk mereka yang bertanggung jawab atas pengelolaan klub.

“Anda tidak bisa terus mengganti pelatih. Terus mengganti, mengganti, mengganti. Bagaimana dengan sektor lainnya? Saya tidak bisa mengatakan lebih banyak,” ucapnya.

Kalimat terakhir itu menjadi penutup yang cukup tajam.

Nama keluarga Glazer, Ratcliffe, CEO Omar Berrada, dan Wilcox pun kembali menjadi pusat perhatian. Mereka merupakan figur-figur yang menentukan arah kebijakan Manchester United, termasuk dukungan terhadap Michael Carrick.

Cuma Rp3 Triliun untuk Belanja Pemain

Persoalan utama yang disorot Martínez berkaitan dengan aktivitas Manchester United di bursa transfer musim panas.

Klub berjuluk Setan Merah tersebut menghabiskan sekitar 150 juta pound sterling, setara kurang lebih Rp3 triliun dengan kurs ilustratif Rp20.000 per pound, untuk mendatangkan pemain baru.

Investasi itu mencakup tiga gelandang, yakni Carlos Baleba, Youri Tielemans, dan Andrey Santos.

Masalahnya, sejumlah kebutuhan lain belum terpenuhi. Manchester United tidak berhasil mendatangkan bek kiri baru maupun pemain pelapis untuk penyerang tengah Benjamin Sesko.

Kedalaman skuad pun masih menjadi persoalan. Kualitas di posisi bek kanan dinilai belum memenuhi standar Premier League, sementara beberapa sektor lain juga kekurangan pemain pelapis yang memadai.

Situasi tersebut terasa semakin merugikan ketika Luke Shaw dan Sesko absen akibat cedera saat menghadapi Atlético Madrid.

Manchester United akhirnya harus menjalani pertandingan penting dengan sejumlah keterbatasan. Kekalahan di Metropolitano menjadi gambaran lain dari risiko yang muncul ketika kebutuhan skuad tidak ditangani secara menyeluruh.

Martínez memahami bahwa persaingan sepak bola terus berkembang. Tim yang tampil baik pada musim sebelumnya tidak otomatis mampu mengulang pencapaian yang sama jika tidak melakukan pembenahan.

“Anda tidak bisa bertahan hanya dengan apa yang dilakukan musim lalu. Tim-tim lain sudah mengetahui cara Anda bermain, mereka mengetahui setiap detail. Jika Anda tidak berubah pada musim berikutnya, itu menjadi masalah besar,” katanya.

Kalah Belanja dari Manchester City hingga Klub Promosi

Perbandingan pengeluaran membuat kritik terhadap Manchester United semakin menarik.

Dalam bursa transfer musim panas yang dibahas, Manchester City menghabiskan sekitar 450 juta pound sterling atau Rp9 triliun. Chelsea dan Tottenham Hotspur masing-masing mengeluarkan lebih dari 300 juta pound sterling, setara lebih dari Rp6 triliun.

Liverpool juga berada di atas Manchester United dengan pengeluaran sekitar 227 juta pound sterling atau Rp4,54 triliun.

Yang lebih mencolok, klub promosi Ipswich Town menghabiskan sekitar 190 juta pound sterling atau Rp3,8 triliun. Hull City pun membukukan pengeluaran sekitar 151 juta pound sterling, sedikit di atas Manchester United.

Angka-angka itu menjadi sorotan karena Manchester United justru membutuhkan tambahan pemain untuk menghadapi persaingan di Liga Champions.

Carrick mewarisi skuad yang relatif tipis. Kebutuhan untuk memperkuat beberapa posisi sebenarnya sudah terlihat, tetapi klub tidak memenuhi seluruh kebutuhan tersebut di bursa transfer.

Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul bukan sekadar berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan. Yang lebih penting, apakah investasi tersebut cukup untuk membangun skuad yang mampu bersaing di level tertinggi?

Carrick Ikut Tertekan

Michael Carrick berusaha meredakan situasi setelah komentar Martínez menjadi perhatian. Ketika ditanya mengenai pernyataan bek Argentina itu, sang pelatih menggambarkannya sebagai reaksi emosional setelah kekalahan.

Carrick memang tidak bisa mengabaikan hasil di lapangan. Manchester United kini mencatatkan periode yang lebih buruk dibandingkan sejumlah rangkaian hasil yang mengakhiri masa kerja dua pendahulunya, Ruben Amorim dan Erik ten Hag.

Dalam tujuh pertandingan terakhir, Carrick hanya membawa timnya meraih satu kemenangan. Amorim dan Ten Hag sama-sama dipecat setelah Manchester United hanya mencatatkan dua kemenangan dalam tujuh pertandingan terakhir mereka.

Amorim diberhentikan setelah hasil imbang melawan Leeds United pada Januari. Kini, Leeds kembali menanti Manchester United sebagai lawan berikutnya pada Minggu.

Tekanan pun meningkat.

Jika hasil buruk berlanjut, posisi Carrick bisa menjadi bahan pembicaraan yang lebih serius. Tapi, kritik Martínez memperlihatkan bahwa persoalan Manchester United tidak bisa semata-mata dibebankan kepada pelatih.

Siapa yang Sebenarnya Bertanggung Jawab?

Martínez secara terbuka menunjuk Wilcox sebagai salah satu pihak yang seharusnya memberikan dukungan lebih besar. Meski begitu, kewenangan direktur sepak bola tersebut untuk membelanjakan uang tentu bergantung pada anggaran yang disetujui manajemen.

Wilcox memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan kebutuhan skuad. Ia bisa saja dinilai belum cukup berhasil mendorong tambahan dana untuk menutup kekurangan pemain di sejumlah posisi.

Berrada juga tidak lepas dari sorotan. CEO Manchester United itu sebelumnya menargetkan gelar juara pada 2028, bertepatan dengan peringatan 150 tahun klub.

Target tersebut tentu membutuhkan perencanaan yang matang, termasuk pembangunan skuad yang mampu bersaing secara konsisten.

Akan tetapi, keputusan untuk membuka keran investasi dalam jumlah besar pada akhirnya juga berkaitan dengan Ratcliffe dan keluarga Glazer sebagai pemilik klub.

Jika anggaran yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan tim, ruang gerak para pengambil keputusan di level operasional ikut terbatas. Karena itulah, kritik Martínez tidak berhenti pada Wilcox, melainkan turut mengarah kepada struktur kepemilikan Manchester United.

Persoalan ini memperlihatkan betapa rumitnya pengelolaan klub besar ketika ambisi olahraga tidak berjalan seiring dengan kebijakan finansial.

Suporter Bukan Satu-satunya yang Marah

Ada satu hal yang bisa dibaca dari pernyataan Martínez. Para pemain Manchester United tampaknya juga merasakan frustrasi yang selama ini disuarakan para pendukung.

Mereka melihat rival-rivalnya berkembang dengan dukungan finansial yang lebih besar, sementara Manchester United masih berkutat dengan persoalan kedalaman skuad dan hasil pertandingan yang tidak konsisten.

Pernyataan Martínez berpotensi memperbesar tekanan terhadap keluarga Glazer dan Ratcliffe. Keduanya sudah lama menjadi sasaran kritik sebagian pendukung Manchester United terkait pengelolaan klub.

Kini, kritik tersebut datang dari seorang pemain yang berada langsung di dalam tim.

Tentu saja, Martínez juga perlu memahami bahwa kritik terbuka terhadap petinggi klub bisa memicu reaksi yang tidak sederhana. Ia telah memasuki wilayah sensitif yang menyangkut kebijakan transfer, anggaran, dan hubungan antara pemain dengan manajemen.

Tapi, pesan utamanya cukup jelas: Manchester United membutuhkan lebih dari sekadar pergantian pelatih jika ingin kembali bersaing di papan atas.

Klub sebesar Manchester United membutuhkan skuad yang sepadan dengan ambisinya. Investasi, perencanaan, dan keputusan transfer harus berjalan beriringan.

Para pendukung sudah lama menuntut perubahan. Kini, setidaknya satu pemain bintang ikut menyuarakan keresahan yang sama.

Dan setelah kritik Martínez mencuat, keluarga Glazer serta Ratcliffe kembali menghadapi pertanyaan yang sulit dihindari: apakah mereka benar-benar bersedia menyediakan sumber daya yang dibutuhkan Manchester United untuk kembali bersaing?

Bayu Indrajati
Bayu Indrajatihttps://gilabola.com/author/bayu/
Bayu Indrajati, adalah seorang penulis olahraga yang berdedikasi untuk menghubungkan penggemar sepak bola dengan dunia yang penuh aksi. Dengan pengalaman 25 tahun meliput pertandingan-pertandingan di Eropa dan Indonesia, ia menghadirkan cerita-cerita inspiratif dan seru.

BERITA TERKAIT

TERKINI