Pemain Jerman dan Belanda sudah coba saling bunuh sejak 1974

106

Jerman dan Belanda adalah musuh bebuyutan. Dendam kesumat berkobar di antara keduanya. Saat ini Jerman unggul karena menaklukkan Belanda 2-1 di laga kedua Grup Neraka, Grup B Euro 2012. Jika laga ini terjadi di dekade 1980-an maka bisa dipastikan akan diwarnai saling ludah, saling jambak, dan saling jegal secara kasar. Sebenarnya sentimen anti-Jerman itu sudah […]

Liga Europa Liga Jerman  - Pemain Jerman dan Belanda sudah coba saling bunuh sejak 1974

Jerman dan Belanda adalah musuh bebuyutan. Dendam kesumat berkobar di antara keduanya. Saat ini Jerman unggul karena menaklukkan Belanda 2-1 di laga kedua Grup Neraka, Grup B Euro 2012. Jika laga ini terjadi di dekade 1980-an maka bisa dipastikan akan diwarnai saling ludah, saling jambak, dan saling jegal secara kasar.

Sebenarnya sentimen anti-Jerman itu sudah berkembang di Belanda pasca Perang Dunia II. Mereka menyalahkan Jerman untuk kematian sekitar 250.000 orang Belanda selama perang. Sampai dengan tahun 1988 semangat mengalahkan Jerman di lapangan olahraga banyak diwarnai dendam akibat perang.

“Saya tidak terlalu peduli soal skor akhir. 1-0 juga sudah cukup sepanjang kita bisa mempermalukan mereka. Saya benci Jerman. Mereka membunuh semua anggota keluarga saya. Ayahku, kakak perempuanku, dua dari saudara laki-lakiku. Setiap kali berhadapan dengan Jerman, saya dipenuhi amarah,” kata Wim van Hannegem, pemain tengah timnas Belanda era 1970-an yang dilahirkan tahun 1944, pas di saat perang.

Di Piala Dunia 1974 Belanda kalah 1-2 vs Jerman. Laga ini dijuluki “induk dari semua kekalahan Belanda.” Kenapa? Karena tim Oranje merasa mereka dicurangi wasit yang memberikan sebuah penalti kepada tim Jerman sehingga mereka bisa menyamakan kedudukan 1-1, sebelum akhirnya menang 1-2.Wasit itu orang Inggris. Dan mereka seperti percaya bahwa orang Inggris akan mengecewakan semua orang, bahkan ketika mereka tidak turun bertanding.

Kejuaraan Eropa 1980 Belanda kalah lagi 3-2 dari Jerman. Saat itu kiper Toni Schumacher baku pukul dengan Huub Stevens, pemain Belanda. Di ajang yang sama Rene van de Kerkhof meninju Bernd Schuster tepat di matanya.

Kejuaraan Eropa 1988. Kali ini giliran Jerman menyerah 1-2 vs Belanda di laga semifinal. Kali ini Ronald Koeman, pemain yang menyamakan kedudukan, berbuat ulah dengan mengambil kaos tim Jerman milik Olaf Thon lalu menghapus pantatnya dengan kaos itu di depan ribuan penonton seolah-olah kertas toilet.

Saat itu Belanda berhasil memenangkan trofi kejuaraan. Pelatih Rinus Michels berkomentar, “Kita berhasil memenangkan turnamen ini, tapi kita semua tahu partai semifinal (melawan Jerman) adalah final yang sesungguhnya.”

Kiper Belanda waktu itu, Hans van Breukelen, mengatakan, “Saya sudah menunggu-nunggu momen ini selama 14 tahun. Sebelum laga dimulai saya mengingat perasaanku dulu saat menonton TV sebagai seorang remaja, dan itu membangkitkan amarahku. Kini saya merasa gembira bisa mempersembahkan kado ini kepada generasi tua yang melewati perang.”

Mengalahkan tim Jerman adalah segala-galanya pada waktu itu. Meski makin ke sini sentimen atas dasar dendam perang semacam itu kian berkurang. Namun ketegangan dan kebencian keduanya masih terus berlangsung.

Piala Dunia 1990 di mana Jerman mempermalukan Belanda 2-1 di laga babak kedua adalah insiden yang paling heboh dari rivalitas Jerman vs Belanda.

Kala itu pemain Oranje, Frank Rijkaard, kena kartu kuning karena menjegal Rudi Völler. Saat bersiap mengambil posisi, Rijkaard meludahi rambut Völler. Pemain Jerman itu kemudian mengadu ke wasit tapi menggunakan istilah yang diduga rasis sehingga malah kena kartu kuning juga.

Sesaat kemudian saat momentum tendangan bebas, Völler dituduh mencoba diving di kotak penalti sehingga Rijkaard menghampirinya untuk menjewer telinga Völler dan menginjak kakinya. Keduanya diusir wasit. Namun Rijkaard sempat-sempatnya meludahi rambut Völler lagi sementara berjalan keluar lapangan.