Paul Pogba Kisahkan Sulitnya Hidup Sebagai Muslim di Manchester

  • Paul Pogba menceritakan sulitnya hidup sebagai seorang Muslim di kota Manchester, yang diguncang bom dua hari sebelum final Liga Europa.

Paul Pogba - Umroh
Paul Pogba - Umroh

Liga Inggris –┬áPaul Pogba mengungkapkan sulitnya menjadi seorang Muslim yang tinggal di Manchester setelah serangan bom di kota itu bulan lalu. Dia menegaskan para teroris tak boleh dibiarkan menang.

Dalam sebuah wawancara untuk majalah Esquire edisi Juli/Agustus, bintang Manchester United tersebut juga berefleksi soal kematian ayahnya, Fassou, pada usia 79 tahun.

Pogba mengilhami United meraih kemenangan di final Liga Europa atas Ajax pada 24 Mei – dua hari setelah satu pelaku bom bunuh diri menewaskan 22 orang dan melukai lebih banyak lagi dalam konser Ariana Grande di Arena Manchester.

Gelandang berusia 24 tahun asal Prancis tersebut mendedikasikan kemenangan United kepada para korban, dan ia percaya kekejaman – dan serangan serupa yang terjadi di London – tidak ada hubungannya dengan agama.

Pogba, yang melakukan umrah ke tempat suci Mekkah pada akhir musim lalu, mengatakan: “Ini adalah saat yang sangat sulit tapi Anda tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan mereka masuk ke dalam kepala kita – kita harus berjuang untuk itu.”

“Hal-hal yang menyedihkan terjadi dalam hidup tapi Anda tidak boleh berhenti hidup. Anda tidak bisa membunuh manusia. Membunuh manusia – itu sesuatu yang gila, jadi saya tidak ingin memasukkan agama ke dalamnya.

“Ini sama sekali bukan Islam dan semua orang tahu itu. Saya bukan satu-satunya orang yang mengatakan hal itu,” katanya kepada majalah Esquire, seperti dikutip Daily Mail.

Sejak pindah ke United dari Juventus dengan biaya transfer yang memecahkan rekor dunia musim panas lalu, Pogba telah dikenal karena sikapnya yang menyenangkan, selalu menari dan gaya rambut yang warna-warni. Dia mengatakan bahwa kematian ayahnya kurang dari dua minggu sebelum final Liga Europa di Stockholm merupakan pengingat bahwa kehidupan itu harus dinikmati.

“Bila Anda kehilangan seseorang yang Anda cintai, Anda tidak berpikir dengan cara yang sama,” tambahnya. ‘Itu sebabnya saya bilang saya menikmati hidup, karena berjalan sangat cepat. Saya ingat ketika saya berbicara dengan ayah saya dan sekarang dia tidak ada lagi di sini. Dia adalah orang yang sangat kuat, sangat keras kepala juga. Dia bertarung, tapi seusianya tidak mudah.”

“Dia adalah salah satu pria paling lucu yang pernah ada, sangat lucu. Setiap kali Anda sempat bersamanya Anda tertawa. Sangat pandai juga, karena dia seorang profesor. Anda harus mengingat hal-hal yang membahagiakan.”

Liga Inggris  - Paul Pogba Kisahkan Sulitnya Hidup Sebagai Muslim di Manchester
Paul Pogba dan ayahnya 79 tahun

Mengenang kembali musim pertamanya sebagai pemain termahal di dunia sepak bola, Pogba menegaskan bahwa harga 89 juta poundsterling tidak mempengaruhi penampilannya.

“Setelah satu minggu, saya lupa,” katanya. “Orang-orang itulah yang mengingatkan saya. Sebab, di penghujung hari, saat kamu mati, yang paling mahal dan yang lebih murah, mereka masuk kuburan yang sama. Jadi saya bahkan tidak memikirkannya.”

Dia juga membalas kritik atas penampilannya dan United musim lalu, menunjukkan tiga piala yang dimenangkan Jose Mourinho di musim pertama manajer itu di Old Trafford sebagai pembenaran atas cara mereka bermain.

“Saya menerima bahwa kami tidak bermain bagus, kami tidak melakukan ini, kami tidak melakukan itu,” katanya. “Tapi saya tahu apa yang kami lakukan – kami memenangkan tiga piala. Hanya itu yang saya tahu. Dan hanya itu yang penting.”

“Anda bisa menjadi tim terbaik di dunia, Anda bisa bermain sepakbola hebat dan Anda memenangkan piala nol. Dan siapa yang mengingat itu? Tidak ada kan?”

Liga Inggris  - Paul Pogba Kisahkan Sulitnya Hidup Sebagai Muslim di Manchester
Paul Pogba – Liga Europa